Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 23 Sep 2019 18:39 WIB

Rentetan Maskapai Ini Bangkrut Sepanjang 2019

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Foto: Alamy via thesun.co.uk Foto: Alamy via thesun.co.uk
Jakarta - Thomas Cook telah mengkonfirmasi bahwa semua perusahaan dalam grupnya telah berhenti beroperasi termasuk di dalamnya maskapai Thomas Cook. Pada Minggu (22/9/2019) waktu setempat, pihak perusahaan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dewan direksi tidak punya pilihan lain, selain mengambil langkah likuidasi.

Selain maskapai Thomas Cook ternyata sudah ada beberapa maskapai lain yang harus gulung tikar terlebih dahulu. Mengutip sejumlah sumber, Senin (23/9/2019), berikut beberapa maskapai yang bangkrut pada tahun ini:

1. Germania (Jerman)

Maskapai penerbangan bertarif rendah asal Jerman telah mengajukan kebangkrutan pada Februari lalu dan membatalkan semua penerbangannya. Meskipun kurang dikenal di luar Jerman, namun maskapai ini bisa dibilang sangat besar di Jerman, mengoperasikan sekitar 30 pesawat.

2. Flybmi (Inggris)

Maskapai terakhir BMI (British Midland International) yang pernah menjadi pemain yang relatif penting dalam industri penerbangan Inggris ini, diakuisisi oleh British Airways pada tahun 2012. Operasi regional BMI dibeli oleh investor swasta dan terus beroperasi sebagai entitas independen dengan Embraer ERJ135/145 hingga Februari 2019.

3. Air Insel (Curacao)

Airline Insel Air dinyatakan bangkrut pada Februari setelah hampir tiga belas tahun melayani penerbangan di wilayah Curacao, Aruba dan Bonaire. Empat tahun lalu, maskapai ini terbang di lebih dari 20 tujuan dan mengangkut lebih dari 2 juta penumpang setiap tahun. Menurut Talk Finance, perusahaan ini memiliki utang lebih dari 165 juta gulden Antillean atau sekiar lebih dari 80 juta euro.

4. Asian Express (Tajikistan)

Maskapai asal Tajikistan ini didirikan pada 1911. Pada Januari 2019 operasi penerbangan maskapai ini dihentikan. Sebelum ditutup, maskapai ini mengoperasikan pesawat Airbus A320-200 dan pesawat Avro RJ100.


5. Air Philip (Korea Selatan)

Air Philip adalah maskapai penerbangan Korea Selatan yang mulai beroperasi pada Juni 2018. Maskapai ini hanya terbang antara Seoul dan Gwangju. Maskapai ini memulai penerbangan terjadwal ke Rusia dan Jepang pada bulan Desember tetapi menangguhkan semua layanan hanya tiga bulan kemudian, akibat masalah keuangan.

6. Jet Airways (India)

Setelah 25 tahun terbang rute domestik dan internasional dari Mumbai, Jet Airways melakukan penerbangan terakhir pada bulan April. Itu terjadi setelah negosiasi berbulan-bulan dengan pemberi pinjaman gagal menghasilkan dana darurat bagi maskapai. Maskapai ini terpaksa tutup meski terkenal sangat andal dan memiliki peringkat yang bagus dari konsumen.

7. Al Naser Wings Airlines (Irak)

Al-Naser Airlines didirikan pada 2005 oleh Sheikh Hussein Al Khawam. Maskapai ini mulai beroperasi pada 2005 untuk militer AS di Irak dan pada 2009 memasuki sektor sipil yang mengoperasikan penerbangan pertamanya ke Kuwait pada 15 Juli 2009. Maskapai ini berganti nama menjadi Al Naser Wings Airlines pada 2017. Namun, maskapai ini berhenti beroperasi dan mengajukan kebangkrutan pada awal 2019.

8. Aigle Azur (Prancis)

Maskapai yang bermarkas di Paris Orly ini mengatakan pihaknya mulai mencatatkan kebankrutan pada 2 September. Maskapai ini memiliki investor terkenal seperti David Neeleman dan kelompok China HNA. Maskapai ini berfokus pada pasar Prancis ke Afrika Utara. Sampai baru-baru ini Aigle Azur memiliki beberapa rencana pertumbuhan yang ambisius yang mencakup penambahan armada pesawat A330.

Simak Video "Unggah Foto di Kabin Pesawat, Kaesang Sindir Garuda Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com