Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 25 Sep 2019 13:37 WIB

Perang Dagang Belum Usai, Trump Kritik Pedas China di Sidang PBB

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Selang empat hari setelah wakil AS dan negosiator China mengadakan pembicaraan di Washington, Presiden AS Donald Trump menyampaikan teguran pedas terhadap praktik perdagangan China pada hari Selasa waktu setempat di hadapan Majelis Umum PBB.

Melansir dari Reuters pada Rabu (25/9/2019), Trump mengatakan bahwa Beijing telah gagal menepati janji-janji yang dibuatnya ketika China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia pada tahun 2001. Selain itu Trump juga menuduh China terlibat dalam praktik-praktik predator yang menelan jutaan pekerjaan di Amerika Serikat dan negara-negara lain.

"China tidak hanya menolak untuk mengadopsi reformasi yang dijanjikan, tetapi juga menganut model ekonomi yang bergantung pada hambatan pasar besar-besaran, subsidi negara yang besar, manipulasi mata uang, dumping produk, transfer teknologi paksa dan pencurian kekayaan intelektual dan juga rahasia dagang dalam skala besar," kata Trump di hadapan Majelis Umum PBB.

Meskipun Trump mengulurkan harapan bahwa Amerika Serikat dan China masih bisa mencapai kesepakatan perdagangan, dia menegaskan bahwa dia menginginkan kesepakatan yang akan menyeimbangkan kembali hubungan antara kedua negara adidaya ekonomi, dia juga mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menerima kesepakatan yang buruk.


"Orang-orang Amerika benar-benar berkomitmen untuk memulihkan keseimbangan dalam hubungan kita dengan Cina. Semoga kita bisa mencapai kesepakatan yang akan bermanfaat bagi kedua negara, " kata Trump.

"Seperti yang sudah saya jelaskan, saya tidak akan menerima tawaran buruk." Jelasnya lagi.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan bahwa Beijing tidak punya niat untuk memainkan 'Game of Thrones' di panggung dunia.

"China tidak memiliki niat untuk memainkan Game of Thrones di panggung dunia. Untuk saat ini dan di masa mendatang, Amerika Serikat masih dan akan tetap menjadi negara terkuat di dunia," Kata Wang Yi, melansir dari Reuters.


Wang juga mengatakan bahwa Beijing tidak akan tunduk pada ancaman, termasuk pada perdagangan.

"Negosiasi tidak dapat terjadi di bawah ancaman atau dengan mengorbankan hak sah China untuk pembangunan," tambah Wang.

Selain itu dia juga memperingatkan Washington untuk menghormati kedaulatannya, termasuk di Hong Kong. Wang mengatakan kedua negara harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip non-campur tangan dalam urusan internal masing-masing, menghormati kedaulatan wilayah masing-masing, dan tidak berusaha untuk memaksakan kehendak mereka pada satu sama lain.

Dia mengatakan bahwa untuk mempertahankan kemakmuran Hong Kong, perlu untuk menolak kekerasan dan menghormati aturan hukum.

"Kami berharap AS akan konsisten dalam kata-kata dan tindakannya, menghormati kedaulatan China dan menghormati upaya pemerintah Hong Kong untuk menghentikan kekerasan dan memulihkan ketertiban," katanya.




Simak Video "Pertumbuhan Ekonomi Global Lesu, Apa Langkah Menkeu?"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com