BI Perkirakan Inflasi Turun Pada Paruh Pertama 2006
Selasa, 01 Nov 2005 18:01 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi akan mulai menurun di paruh pertama tahun 2006 dan kecenderungan ini akan terus berlangsung sampai akhir tahun depan yang mencapai kisaran 6,5-8,5 persen.Sementara dalam dua bulan kedepan sampai akhir tahun 2005, peningkatan kegiatan ekonomi diperkirakan berlanjut dengan pertumbuhan mencapai 5,5-6 persen. Begitu pula dengan tekanan terhadap ketidakstabilan makroekonomi masih akan berlanjut. Demikian hasil rapat Dewan Gubernur BI menanggapi tingginya inflasi Oktober yang mencapai 8,7 persen dan inflasi Januari-Oktober yang sebesar 15,65 persen, dalam penjelasan tertulis yang ditandatangani Kabiro Humas BI, Rizal A. Djaafara, Selasa (1/11/2005). Dijelaskan, dalam jangka yang lebih panjang, sampai akhir 2006 inflasi diperkirakan pada kisaran 6,5-8,5 persen. Setelah mencapai puncaknya pada bulan Oktober, serta memperhatikan perkembangan determinan inflasi.Sementara untuk nilai tukar rupiah akan bergerak dengan kecenderungan menguat. Terutama disebabkan oleh peningkatan interest rate differential pascakenaikan BI Rate menjadi 12,25 persen dan membaiknya indeks risiko. Selain itu, penguatan rupiah juga disumbang oleh peningkatan investasi portofolio oleh investor asing. Kestabilan nilai tukar juga didorong oleh efektivitas pengelolaan likuiditas di pasar rupiah bahkan dalam beberapa hari mengalami kondisi yang cukup ketat sehingga tidak mendorong perilaku currency switching. Perkembangan tersebut mampu mengurangi dampak kecenderungan pelemahan mata uang regional terhadap dolar AS sejalan dengan berlanjutnya siklus pengetatan moneter AS. Sektor perbankan secara umum masih menunjukkan kinerja yang cukup baik. Fungsi intermediasi perbankan ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit sampai September 2005 yang mencapai 20,2 persen dengan LDR menjadi 66,1 persen. Sedangkan target yang telah ditetapkan untuk tahun 2005 sebesar 22 persen diperkirakan akan tercapai. GWM BankDalam rangka meningkatkan efektivitas pengendalian moneter, BI menyempunakan operasionalisasi kebijakan moneter melalui perpanjangan waktu buka (windows) untuk instrumen FASBI O/N dengan suku bunga ditetapkan sebesar 500 basis poin dibawah BI rate. Sementara itu, dalam rangka memberikan insentif kepada perbankan untuk tetap menjalankan fungsi intermediasinya, sejak 1 Desember 2005, Bank Indonesia akan meningkatkan renumerasi atas simpanan giro bank pada Bank Indonesia di atas Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 6,5 persen.
(ir/)











































