Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 11 Okt 2019 17:08 WIB

Makin Susah Cari Kerja, Lulusan SMK Marak Jadi Driver Ojol

Tim detikcom - detikFinance
Jakarta - Turunnya angka pengangguran di Indonesia bersamaan dengan meningkatnya pengangguran di tingkat lulusan SMA/SMK sederajat. Kok bisa?

Mantan Menteri Keuangan periode 2013-2014 Chatib Basri mengatakan, Pemerintah tidak menciptakan banyak lapangan kerja sesuai dengan kualitas lulusan.

"Misalnya pekerjaan informal. Driver Ojol (ojek online). Nah tamatan SD sampai SMP ini biasanya pekerjaan apa saja diambil. Bagaimana tamatan Universitas? Mana mau jadi tukang sapu kan?" kata Chatib Basri kepada CNBC Indonesia.

Per Februari 2019, masyarakat dengan tingkat pendidikan tertinggi SMK menjadi yang paling sulit mendapatkan pekerjaan, diikuti oleh lulusan Diploma, SMA, dan Universitas. Hal itu jauh di atas tingkat pengangguran dari masyarakat dengan tingkat pendidikan tertinggi SD ke bawah dan SMP.

Maraknya penggunaan aplikasi ride hailing seperti Gojek dan Grab dicurigai sebagai faktor yang membuat tingkat pendidikan lebih rendah mudah mendapat pekerjaan.


Sekilas memang tidak ada yang salah dengan menjadi driver Ojol. Namun, pemerintah harus waspada, mengingat tenaga kerja informal seperti jadi driver Ojol merupakan tenaga kerja yang tidak membayarkan pajak kepada pemerintah, walaupun penghasilannya masuk ke dalam kategori yang dikenakan PPh.

Berdasarkan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2018, dari total penerimaan negara yang senilai Rp 1.944 triliun, sebanyak Rp 731,8 triliun atau setara dengan 37,6% disumbang oleh PPh.

Pada tahun 2018, total penerimaan perpajakan hanya mencapai Rp 1.519 triliun atau 93,86% dari target. Jika tenaga kerja informal tidak mendominasi pasar tenaga kerja kita, pastilah realisasi penerimaan perpajakan bisa lebih baik lagi dan amunisi pemerintah untuk mendorong pembangunan akan bertambah banyak.


Belum lagi, jika bicara mengenai model bisnis dari perusahaan-perusahaan ride hailing itu sendiri. Seperti sama-sama kita ketahui, perusahaan-perusahaan ride hailing mengandalkan promo besar-besaran guna menarik minat masyarakat menggunakan layanannya.

Kehadiran pemodal kelas kakap macam SoftBank membuat perusahaan-perusahaan ride hailing seakan tak pernah kehabisan dana untuk menggeber promonya.

Namun pertanyaannya, apa yang akan terjadi jika pemodal-pemodal tersebut tidak tertarik lagi menyuntikkan dananya ke bisnis ride hailing?

Ditakutkan, kenaikan tarif menjadi sesuatu yang tak terhindarkan dan permintaan dari masyarakat akan turun. Ketika permintaan dari masyarakat turun, bisa terjadi shock yang besar di kalangan driver Ojol. Siap-siap driver Ojol mencari lapangan kerja baru lantaran penghasilan menjadi turun drastis.

Artikel asli berita ini dapat dibaca juga di CNBC Indonesia dengan judul Ini Lho Bahayanya, Pengangguran Turun Tapi Driver Ojol Ramai




Makin Susah Cari Kerja, Lulusan SMK Marak Jadi Driver Ojol


Simak Video "Pernah Dibantu, Driver Ojol Ini Berkaca-kaca Ketemu Melanie Subono"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com