Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 15 Okt 2019 16:55 WIB

Duh! Ini Biang Kerok yang Bikin Jakarta Bisa Tenggelam

Danang Sugianto - detikFinance
Ilustrasi. Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Kondisi DKI Jakarta sudah mulai gawat. Kota metropolitan yang masih berstatus Ibu Kota Negara ini berpotensi tenggelam.

Badan Geologi Kementerian ESDM mendata, hingga 2013 permukaan tanah di Jakarta sudah turun 40 meter dari asalnya, khususnya di Jakarta bagian utara. Penurunan itu akumulasi dari puluhan hingga ratusan tahun.

Meski begitu, dari 2013 hingga 2018 penurunan permukaan tanah di Jakarta menunjukkan perbaikan. Dari yang tadinya turun 40 meter, di 2018 penurunannya jadi 35 meter.

Bukti dari penurunan permukaan tanah juga bisa dilihat dari beberapa hal yang kasat mata, seperti turun dan miringnya bangunan gedung di wilayah Jakarta Utara.

Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar menjelaskan, penurunan permukaan tanah atau land subsidence diakibatkan 3 hal. Pertama berkurangnya air di dalam tanah akibat penggunaan yang berlebihan.

"Perubahan di dalam suatu batuan karena di situ pori-pori yang semula berisi air jadi kosong karena disedot," terangnya dalam acara Media Gathering 'Selamatkan Air Tanah Jakarta, Sekarang atau Tunggu Jakarta Tenggelam di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Kedua, lanjut Rudy, lantaran beban permukaan tanah yang berlebih akibat bangunan tinggi. Dengan begitu beban permukaan tanah semakin berat dan membebani lapisan di bawahnya.


Ketiga, konsolidasi natural, atau terjadinya pemantapan tanah yang bersifat natural. Misalnya ada bagian yang terbentuk dari endapan lengkungan pasir-pasir halus yang kemudian mengeras.

"Nah yang bisa kita kontrol adalah dari pengambilan air tanah, karena berdasarkan riset berpengaruh terhadap land subsidence 20-30%. Kemudian beban bangunan, sehingga penempatan pondasi bangunan itu sangat penting. Untuk yang terkait kondisi natural tidak bisa kita kontrol," tambahnya.

Badan Geologi sendiri saat ini sejak 2015 sudah ditunjuk oleh Pemprov DKI Jakarta sebagai badan yang mengeluarkan rekomendasi untuk sumur bor. Badan Geologi sudah memetakan wilayah yang tidak boleh lagi dibuat sumur bor untuk mengambil air di dalam tanah.

Pihaknya pun menghimbau agar seluruh masyarakat Jakarta memanfaatkan air permukaan tanah seperti sungai yang diolah oleh PDAM. Sayangnya saat ini PDAM hanya bisa menyuplai sekitar 40% untuk kebutuhan air bersih di Jakarta.

Badan Geologi mencatat kebutuhan air bersih di Jakarta pada 2015 mencapai 824,78 juta kubik per tahun. Sementara kemampuan suplai PDAM hanya mencapai 560,6 juta kubik per tahun.

Belum lagi adanya kebocoran pada jaringan pipa PDAM yang mencapai 232,2 juta kubik per tahun atau mencapai 41%. Sehingga suplay PDAM secara riil hanya 328,4 juta kubik per tahun atau hanya memenuhi sekitar 40% dari kebutuhan air bersih di Jakarta.



Simak Video "Dear Pemerintah, Waspadai Isu Lingkungan yang Bisa Muncul di Ibu Kota Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(das/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com