Terhambat Rig, Produksi Minyak Indonesia Tak Optimal
Rabu, 09 Nov 2005 17:05 WIB
Jakarta - Produksi minyak Indonesia tahun ini dan 2006 diperkirakan tidak akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Kurang optimalnya produksi minyak nasional karena minimnya sarana Rig yang ada.Akibatnya, proses pengeboran dan eksplorasi perusahaan minyak nasional, baik untuk on shore (darat) maupun off shore (laut), mengalami hambatan."Pengeboran dan eksplorasi tahun ini tidak lebih baik dari tahun lalu, bahkan rencana pengeboran dalam kontraknya telah bergeser. Misalnya rencana pengeboran itu 100, tapi realisasinya hanya 70, begitu juga untuk tahun depan tidak lebih baik," kata Deputi Perencanaan Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Zanial Achmad di sela acara halal bihalal di Gedung Patra Jasa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (9/11/2005).Minimnya ketersediaan Rig untuk pengeboran ini, diakui Zanial, tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Kesulitan pengadaan Rig terutama untuk pengeboran di laut dalam (off shore)."Harga minyak kan lagi tinggi, orang lagi doyan-doyannya ngebor, sudah susah didapat, mahal lagi," ujarnya.Saat ini harga pasar Rig, baik di dalam maupun luar negeri, untuk harga sewanya telah naik 1,5 sampai 2 kali dari biasanya."Justru yang kesulitan itu saat ini adalah perusahaan-perusahaan dalam negeri, karena dari sisi perencanaan maupun linkage, mereka jauh di bawah perusahan asing yang ada di Indonesia," tutur Zanial.Untuk menyiasati kondisi ini, menurut Zanial, BP Migas telah meminta kepada perusahaan yang akan melakukan pengeboran untuk melakukan kerja sama."BP Migas akan mempermudah dan membantu prosedurnya, kalau cuma satu perusahaan saja, itu akan sulit mendapatkan Rig, tapi kalau tiga perusahaan mau kerja sama, akan lebih mudah dan memakainya bisa bergantian," katanya.Selain masalah kesulitan pengadaan Rig, saat ini perusahaan pengeboran minyak juga mengalami kesulitan mengadakan survei seismik."Karena harga minyak tinggi, jadi masalahnya bukan hanya Rig saja, tapi juga survei seismik, makanya target produksi akan sulit tercapai," tandasnya.
(ir/)











































