Pertamina Siap Open Acces di Bisnis Aviasi
Kamis, 10 Nov 2005 19:56 WIB
Jakarta - Di tengah sorotan kuat terhadap Pertamina terkait dengan kasus Batavia Air, perusahaan yang 100 persen sahamnya dimiliki negara ini siap menjalin kerjasama dengan swasta dalam bisnis aviasi. Pertamina siap menggarap bisnis hilir BBM aviasi bersama swasta di bandar udara seluruh nasional mulai tahun depan.Kerja sama ini dinilai Pertamina sebagai hal yang penting untuk mengoptimalkan operasional 54 Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU)."Kami sedang selesaikan feasibility study bagaimana konsep bisnisnya supaya awal 2006 nanti sudah jelas. Ini perlu kerja sama karena saya dengar sudah ada tiga perusahaan yang dapat izin, ExxonMobil, Shell, dan BP," kata General Manager Aviasi PT Pertamina Donny Joko Subakti di sela-sela demo pengisian BBM pesawat terbang di apron terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Kamis (10/11/2005).Donny menyatakan pihaknya kini tengah merumuskan skema kerja sama yang akan ditawarkan ke perusahaan asing menyusul telah diizinkannya tiga badan usaha asing di sektor bisnis hilir BBM aviasi.Kendati belum dapat menjelaskan secara rinci konsep bisnis tersebut, Donny menegaskan skema itu harus memenuhi asas saling menguntungkan sehingga tidak mengurangi margin keuntungan Pertamina.Selain itu, dia mengungkapkan kerja sama diperlukan untuk menghindari persaingan tidak sehat jika distribusi BBM aviasi juga dibuka untuk pemain swasta, baik asing maupun nasional.Apalagi, tuturnya, pasar BBM aviasi di dalam negeri yang kini masih dimonopoli Pertamina telah teridentifikasi sehingga pangsa pasar bahan bakar tersebut sudah dapat dipastikan. "Lebih dari 40 tahun, Pertamina mengoperasikan semua DPPU yang ada seluruh nasional. Jangan sampai persaingannya nanti jadi head to head," ujarnya.Pertamina sendiri saat ini melayani seluruh kebutuhan avtur pesawat terbang yang melintasi kawasan udara nasional, baik pesawat domestik maupun internasional, dengan mengelola 54 DPPU.Volume penjualan BBM jenis ini diketahui mencapai rata-rata 2,5 juta kiloliter per tahun dengan mayoritas permintaan sebesar 40% dari Bandara Soekarno-Hatta atau sekitar satu juta kiloliter per tahun.
(mar/)











































