Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 27 Okt 2019 17:30 WIB

Lipsus Bisnis Boba

Mau Bisnis Boba? Dengar Dulu Kata Pelanggan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Minuman boba atau ber-topping bubble tengah menjadi minuman favorit generasi milenial dan juga generasi Z. Pemain bisnis boba pun menjamur dan membuat peta persaingan bisnis boba semakin ketat.

Para pebisnis minuman boba berlomba-lomba menjual minuman yang unik namun enak, mempromosikan bahan baku sehat, memberikan penawaran menarik melalui platform-platform pembayaran digital, dan sebagainya.

Lalu, minuman boba seperti apa sih yang diminati generasi milenial?


Salah satu penggemar minuman boba, Gianda Larasatie (22) menuturkan, ia akan memilih minuman boba yang memiliki rasa nikmat dan konsisten akan kualitas produknya tersebut. Gianda bahkan rela membayar mahal minuman boba jika memang produk tersebut terjamin rasanya, meski harganya lebih tinggi dibandingkan merek lain.

"Saya sih lebih mengutamakan rasa ya. Mahal nggak apa-apa, asalkan dijamin enaknya," ujar Gianda kepada detikcom, Sabtu (27/10/2019).

Kompak dengan Gianda, Priska Humaira (22) juga mengatakan ia akan berlangganan dengan penjual boba jika produk yang dijual memiliki cita rasa yang nikmat, meskipun harganya lebih mahal. Priska mengatakan, jika ada suatu merchant minuman boba yang menawarkan promo besar-besaran namun cita rasanya kurang, ia tak akan membelinya.

"Saya memilih rasa ya. Kalau misalnya ada boba yang saya nggak suka, meskipun dia kasih promo besar-besaran ya nggak akan saya beli. Jadi, kalau enak tapi mahal, nggak masalah," jelas Priska.

Berbeda dengan kedua orang di atas, penggemar minuman boba lainnya, yakni Aufa Haqi Sabila (21) mengungkapkan, ia lebih memilih suatu merek boba yang viral. Alasannya simpel, ketika ia berhasil membelinya maka ia akan merasa puas. Aufa rela untuk mengantre panjang jika ada satu merek boba yang sedang viral.

"Lebih lihat viral jujur, karena kalo nggak viral saya nggak tertarik buat mencoba. Apalagi harganya juga mahal dan harus ngantre panjang, tapi kalau lagi viral terus kita sudah mencoba kayak lebih puas saja," kata Aufa.


Kemudian, baik Aufa maupun Gianda sama-sama merasa tertarik dengan suatu merek minuman boba ketika melihat unggahan atau ulasan teman-temannya di sosial media. Selain itu, melihat ulasan food blogger pun menjadi alasan mengapa mereka tertarik mencoba suatu minuman boba.

"Kalau boba-boba gitu, lihat di sosial media terutama food blogger sih! Jadi gampang teracuni memang saya ini," papar Gianda.

"Lebih banyak lihat di sosial media pastinya, kayak Instagram story teman atau dari akun yang bahas soal makanan," tambah Aufa.

Agak berbeda, Priska mengungkapkan, ia memilih untuk mencoba produk boba dengan mendatanginya langsung ke gerai ketika ia sendiri ada kegiatan di kawasan tersebut.

"Suka boba karena saya lihat di mal. Lalu saya memang jarang membuka akun media sosial saya buat melihat-lihat makanan," paparnya.

Menanggapi kebiasaan-kebiasaan tersebut, pengamat ekonomi dan bisnis Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan, gaya hidup generasi milenial dan generasi Z kini memang tak akan lepas dari ikatan sosial media. Sehingga, sosial media mempengaruhi cara mereka memilih sesuatu untuk dikonsumsi, terutama sesuatu yang viral.

"Di media sosial itu, habis minum itu terus update status. Jadi semakin menyebar kemudian juga dari komentar-komentar, caption, jadi kalau kita rating itu kan semua terbuka sekarang, transparan, bisa dibaca sama siapa pun. Misalnya kalau ada sesuatu yang enak baik makanan atau minuman kalau anak sekarang kan langsung update status bahwa beli minuman di sini enak dan murah. Itu akan cepat menyebar," kata Heri.

Simak Video "Boba Lover, Michelle Ziudith Bisa Minum Bubble Tea 4 Kali Sehari"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com