PTBA Minta Harga Batu Bara Naik

PTBA Minta Harga Batu Bara Naik

- detikFinance
Jumat, 11 Nov 2005 11:32 WIB
Jakarta - Alternatif batu bara sebagai bahan bakar murah bisa pupus karena produsen batu bara menginginkan kenaikan harga. Tidak mau ketinggalan dengan BBM, PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA) berencana menaikkan harga hampir dua kali lipat.PTBA meminta kenaikan harga batu bara untuk kebutuhan domestik khususnya PLN dari Rp 272.000 per ton menjadi Rp 400.000 per ton."PTBA ingin agar harga bisa naik, soalnya harga solar juga naik dua kali lipat," kata Dirut PTBA, Ismet Harmaini di sela acara pelantikan pejabat eselon I Depertemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Kantor ESDM, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (11/11/2005). Menurut Ismet, dengan harga batu bara Rp 272.000 per ton, perusahaan masih menanggung kerugian. Maka itu, perseroan berharap, kenaikan harga ini bisa segera direalisasikan. PTBA melayani kebutuhan batu bara domestik sebesar 7,5 juta ton, terdiri dari 1,2 juta ton untuk kebutuhan PLN dan sisanya 6,3 juta untuk kebutuhan domestik lainnya. Total produksi PTBA untuk kebutuhan domestik mencapai 76 persen dan sisanya untuk ekspor.Mengenai pengenaan potongan ekspor (PE) batu bara sebesar 5 persen, menurut Ismet, hal tersebut sangat memberatkan produsen. Pengenaan pajak ini dinilai bisa menghambat ekspor. "Kita minta bukan dikurangi tapi dihilangkan pajaknya karena sangat memberatkan, lagi pula ekspor batu bara itu menghasilkan devisa kenapa bukan ini yang dipikirkan," katanya.Holding BUMN TambangIsmet juga menjelaskan, pengkajian rencana pembentukan perusahaan induk (holding) BUMN tambang yang mencakup PTBA, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Timah Tbk direncanakan selesai pada akhir Desember ini.Namun, ditegaskan, pembentukan holding tersebut bukan sebagai merger, karena holding akan digunakan sebagai payung perusahaan BUMN tambang. Jika pembahasannya rampung, menurut Ismet, holding akan segera dilaksanakan. Dengan adanya holding, nantinya aset perusahaan akan menjadi besar."Timnya jalan terus dan kita masih mengkaji. Akhir Desember sudah akan seledai, nantai PTBA akan masuk dalam ekuiti sebesar 20 persen dalam holding tersebut, ini bukan merger tapi holding," papar Ismet. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads