Tender Bersama Impor Gula Diikuti 3 BUMN

Tender Bersama Impor Gula Diikuti 3 BUMN

- detikFinance
Jumat, 11 Nov 2005 12:26 WIB
Jakarta - Tender bersama gula impor yang akan dilakukan mulai 15 November 2005 hanya diikuti tiga importir terdaftar (IT) perusahaan BUMN yaitu PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, PTPN X dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Satu importir terdaftar yakni PTPN XI membatalkan rencana tender bersama. Tender bersama ini untuk pengadaan gula impor sebanyak 136.500 ton. Batas waktu pengapalan gula impor ini harus masuk mulai 15 Desember 2005 hingga 28 Oktober 2006.Demikian diungkapkan oleh Ketua Panitia Tender Bersama yang juga wakil dari PT RNI, Agung P Murdanoto didampingi oleh Adi Santoso dari PTPN X dan Roeswanto dari PTPN IX dalam jumpa pers di kantor RNI, Jalan Lingkar Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (10/11/2005). Tender bersama ini dimaksudkan untuk memperoleh gula impor yang kompetitif dengan kualitas, waktu pengiriman dan kuantitas yang sesuai.Pembelian bersama dalam jumlah besar ini dinilai lebih menguntungkan karena akan memperoleh harga beli yang lebih rendah, jika dibandingkan pelaksanaan tender secara sendiri-sendiri. Apalagi, harga gula impor ini harus jatuh ke tangan konsumen Rp 5.500 per kilogram.Menurut Agung, peserta tender dibatasi kepada supplier gula yang merupakan anggota Refined Sugar Association (RSA) atau anggota Sugar Association of London.Gula putih (white sugar) yang ditenderkan disyaratkan pembeliannya dilakukan secara CIF (Cost In Freight) dengan ICUMSA (kadar keputihan gula) sebesar 70 sampai 200. Pembelian dilakukan secara kontainer dengan ukuran kristal 0,80-1,2 mm.Untuk sumber gula, menurut Agung, secara umum ketersediaan gula cukup lumayan di Thailand, Cina, India, Uni Emirate Arab (UEA) dan negra-negara Uni Eropa. Hanya saja, gula yang akan diimpor Indonesia dengan spesifikasi yang ada terbatas jumlahnya. "India dan UEA menawarkan dengan harga yang cukup kompetitif. Sayangnya gula yang ditawarkan ada dalam kontainer yang seringkali mengalami masalah teknis dalam pengirimannya," kata Agung.Thailand dinilai juga mengkhawatirkan, mengingat penurunan jumlah panen di negara tersebut yang menyebabkan panen yang harusnya dimulai November ditunda sampai pertengahan Desember. Satu hal yang menguntungkan, ungkap Agung, dimulainya penjualan gula putih dari Taiwan dan negara-negara Uni Eropa yang sedang berlomba menjual gulanya hingga 7 juta ton sampai 22 Mei 2006. Hanya saja sebagian besar gula dari Uni Eropa adalah gula bit sehingga sulit masuk pasar Indonesia.Agung juga menjelaskan, dari dari 14 trader yang diundang mengikuti tender bersama, dipastikan 12 trader akan mengikuti tender gula.Ke-12 trader itu adalah Cargill Hongkong, Olam Indonesia, ED&Fman, Ng Nambee, Glencore UK, Louis Dreyfuss Asia, Noble Resources, Wee Thiong, Sucden, Tate and Lyle International, Kerry Foodstuffs, Al Khaleeq. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads