Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 01 Nov 2019 19:05 WIB

Putar Otak Bayar Utang, Bulog Mau Jualan Dedak

Vadhia Lidyana - detikFinance
Halaman 1 dari 2
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) menceritakan kisah 'berdarah-darahnya' perusahaan pelat merah tersebut dalam menjaga keberlangsungan perusahaan.

Bulog harus menyerap beras lokal produksi petani dan juga melakukan impor beras untuk memenuhi memenuhi penugasan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Bulog sampai harus berutang untuk membiayai pegasan tersebut.

Akibat utang tersebut, bahkan Bulog harus menanggung bunga utang sebesar Rp 10 miliar/hari. Belum cukup beban membayar utang dan bunga utang, Bulog juga harus memenuhi kebutuhan operasional Rp 6 miliar/hari.

"Kita dapat penugasan dari negara untuk impor beras contohnya, ini kan beras CBP, tapi yang mengimpor dan membeli Bulog, uangnya pinjam, utangnya Bulog," ungkap Buwas dalam acara Ngopi BUMN, di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (1/11/2019).


Sayangnya, penjualan beras Bulog seret karena tak terserap pasar. Sehingga pendapatan perusahan pun tersendat dan terancam tak bisa bayar utang.

Buwas pun putar otak untuk mengatasi seretnya penjualan beras tersebutn dengan melakukan sejumlah inovasi salah satunya adalah menjual beras premium.

"Untuk komersial juga harus bicara kualitas. Tidak bisa hanya kuantitas dan berharap pada masyarakat. Tidak bisa, harus kita yang bergerak. Maka saya membuat program. Dan saya membuat produk beras premium dari beberapa jenis beras berkualitas termasuk kemasannya, mereknya. Nah terbangun inovasi-inovasi di kalangan anggota saya," tutur Buwas.


Inovasi lain yang dilakukan Bulog adalah mengembangkan produk beras fortivikasi atau beras bervitamin. Selain itu, Bulog juga membuat tepung dari bahan baku bekatul yakni bulir beras, atau yang biasa dikenal dengan dedak.

"Ternyata ada poduk kualitas yang dihasilkan dari beras, yaitu bekatul atau dedak. Itu dulu untuk pakan ayam dan ikan. Tapi orang asing yang mengerti kualitas pangan mereka mengkonsumsi itu dedek. Lihat saja di Ranch Market harga bekatul itu mahal. Timbul pemikiran saya kita memproduksi beras kok itu kita abaikan, padahal punya nilai ekonomis dan jelas nilai vitamin yang tinggi karena itu ada di kulit ari-nya beras. Akhirnya saya bilang Direksi coba pikir ini akan jadi produk kita. Tapi tidak baku, bagaimana kaau kita bikin jadi tepung, bahan dasar kue pengganti terigu," urainya.

(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com