Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 05 Nov 2019 13:33 WIB

Banyak Aturan Nggak Efektif di RI, Bikin Ekonomi Mandek di 5%-an

Anisa Indraini - detikFinance
Foto: detik Foto: detik
Jakarta - Badan Pusat Stastistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2019 sebesar 5,02% year on year (yoy). Angka ini menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia belum bisa bergerak di angka 5%.

Menanggapi itu, Direktur Eksekutif INDEF Eny Srihartati mengatakan ada beberapa penyebab yang membuat upaya pemerintah dalam meningkatkan ekonomi kurang optimal.

Pertama, soal efektivitas kebijakan. Menurutnya, kebijakan di Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi terlalu banyak. Sehingga malah menjadi tidak efektif.

"Kebijakan-kebijakan ini kan nggak mesti banyak. Jadi kebijakan tuh harus selektif sesuai dengan targetnya. Jadi harus berdampak langsung," kata Eny saat dihubungi detikcom, Selasa (5/11/2019).


Kedua, banyak berbagai macam komitmen dan kebijakan yang tidak jalan.

"Jadi berbagai macam komitmen, kebijakan, itu baru di atas kertas. Bagus, tapi eksekusinya tidak jalan," katanya.


Ketiga, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak fokus. Menurutnya, pemerintah tidak bisa melihat peluang untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian dan memfokuskannya pada satu sektor.

"Misalnya apasih yang berkontribusi terhadap multiplier effect untuk perekonomian? Itu salah satunya kan sebenernya sektor-sektor manufaktur. Tapi kan implementasi yang masuk bukan ke manufaktur tapi sektor-sektor biasa. Pemerintah membiarkan aja gitu loh nggak ada effort yang serius untuk betul-betul fokus menarik investasi di sektor manufaktur," imbuhnya.

Simak Video "Sandi: Pemerintah Terjebak Dalam Pertumbuhan Ekonomi 5%"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com