Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 06 Nov 2019 11:14 WIB

Alasan Pengusaha Ragu Berbisnis di RI: Industri Hulu Tak Diperhatikan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Ilustrasi. Foto: Rengga Sancaya Ilustrasi. Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis Indeks Tendensi Bisnis (ITB). Laporan ini menunjukkan kondisi bisnis masih tumbuh namun tingkat kepercayaan pelaku usaha menurun.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana membeberkan penyebabnya. Menurutnya, di tengah perlambatan ekonomi global, tentunya penurunan kepercayaan pelaku bisnis dapat dilihat dengan menurunnya transaksi ekspor.

"Kalau dari indeks bisnis menurun karena memang pertumbuhan ekonomi kita masih relatif rendah meskipun banyak negara juga mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Jadi itu kan juga terpengaruh karena transaksi ekspor kita kan juga menurun, sehingga pertumbuhan ekonomi kita secara nasional menurun," kata Danang kepada detikcom, Rabu (6/11/2019).

Untuk faktor dalam negeri, Danang menuturkan bahwa pemerintah kurang memberikan regulasi yang mendongkrak pertumbuhan industri hulu. Ia mengatakan, selama 4 tahun terakhir, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih memusatkan perhatiannya ke industri hilir.

"Kita memang belum membuat satu regulasi yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan bahan baku dan bahan intermediate. Policy yang dilahirkan selama 4 tahun terakhir atau kabinet pertama Bapak Presiden kan lebih banyak kepada kebijakan yang mengarah ke industri hilir. Industri bahan baku dan intermediate kita masih banyak yang belum terselesaikan," terang Danang.

Hal tersebut menyebabkan industri hilir bergantung pada bahan intermediate atau barang impor setengah jadi. Sedangkan, pasar global ini sedang dalam kondisi yang naik turun dan menyebabkan harga bahan baku tinggi. Hingga pada akhirnya industri hilir kesulitan memperoleh bahan baku.


"Kalau terjadi trade war seperti ini, terjadi gejolak ekonomi internasional seperti ini maka industri-industri kita akan kesulitan mendapatkan bahan baku. Karena menjadi mahal, dan terpengaruh oleh kebijakan negara lain," imbuh dia.

Ia mencontohkan industri farmasi yang 92% bahan bakunya diimpor. Pasalnya, memang industri hilir diberikan insentif atau kemudahan dalam pengadaan bahan bakunya meski impor.

"Kok bisa begitu? Karena kita belum melakukan satu kebijakan insentif di pabrik-pabrik bahan baku farmasi, industri hulu. Sementara kita banyak sekali memberikan insentif kepada industri hilir. Contoh insentif terhadap ekspor bahan sepatu misalnya. Insentif terhadap penjualan garmen, insentif produksi obat-obat murah. Tapi itu di hilir. Dan kita cukup banyak membuat suatu policy untuk memudahkan proses logistik atau pelabuhan berbasis ekspor, yang itu kan hilir-hilir semua yang diekspor," ucapnya.

Menurut Danang, pemerintah juga perlu memberikan regulasi yang mengatur insentif untuk industri hulu. Sehingga, industri hilir tak perlu lagi mengimpor bahan baku.

"Kita mesti juga menjalankan misi pertumbuhan ekonomi secara paralel. Misi penguatan industri hilir sekaligus penguatan industri hulu. Tujuannya apa penguatan industri hulu itu? Tujuannya supaya para pabrik di industri hilir mendapatkan bahan baku dari dalam negeri. Jadi mengurangi impor bahan baku. Ini yang harus kita kejar cepat karena membantu juga kok di trade balance kita. Memang bahan-bahan baku orientasinya bukan ekspor, tapi orientasinya untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Meskipun dia tidak akan memperbaiki trade balance dalam waktu dekat, tetapi dia akan mampu men-supply pabrik-pabrik produsen di hilir dalam negeri," pungkas Danang.



Simak Video "Pemerintah Siapkan Kawasan Industri Tekstil di Jawa Tengah"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com