Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 06 Nov 2019 22:15 WIB

RI Punya Ikan Pesaing Salmon, Diekspor hingga ke Australia

Anisa Indraini - detikFinance
Halaman 1 dari 3
Foto: Anisa Indraini detikcom Foto: Anisa Indraini detikcom
Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui UPT Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung telah berhasil mengembangkan varietas ikan baru bernama King Kobia.

Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Evalawati mengklaim bahwa varietas ini bisa menghasilkan keuntungan hingga 50% dalam setahun.

"Kami hanya menghasilkan benih, dengan modal atau investasi yang lumayan, sekitar Rp 51 juta dengan keuntungan bisa lebih dari 50 persen," katanya.

CEO Silly Fish Indonesia Rika mengatakan, King Kobia mampu memproduksi sekitar 20 ton/bulan. Meskipun begitu, King Kobia sudah mengekspor ke negara Australia. Namun, Rika menyebut akan lebih fokus pada penjualan lokal.

"Diekspor ada, Australia. Paling sekitar 5, 7, 10 ton/bulan. Tapi tidak rutin per bulan, karena saya lebih senang untuk lokal. Selama lokal bisa menyerap saya lebih suka lokal," imbuhnya.

Rika menjelaskan, harga ikan King Kobia sebesar Rp 60 ribu/kg dan nilainya bisa 6-7 kali lipat apabila diolah menjadi masakan.

"Harga dibilang murah, tidak juga. Dibilang berapa harganya, sekitaran Rp 60 ribuan/kg," kata Rika di Balai Kartini, Rabu (6/11/2019).

Rika menyebut, kualitas King Kobia tidak kalah dengan ikan Salmon, yang dikenal dengan teksturnya yang lembut. Untuk itu, ia berharap ikan yang di budidayakan pertama kali di Lampung ini dapat menjadi solusi untuk masyarakat bisa mengonsumsi makanan lokal.

"Sayang sekali, ikan yang DHA-nya lebih-lebih dari Salmon, yang dikenal dengan teksturnya yang juga enak banget gitu loh tidak dikenal," ungkap Rika.

Menurutnya, ikan jenis King Kobia ini sangat sensitif. Jika ditangkap dengan perlakuan yang tidak baik, maka akan berdampak pada rasanya yang jadi amis. Untuk itu, diharapkan King Kobia menjadi alternatif komoditas baru bagi pembudidaya.

"Dia itu ketika ditangkap kalo tidak diperlakukan dengan baik maka rasanya akan buruk, jadi amis. Nah budidaya melahirkan rasa yang sangat berbeda dari tangkapan alam, seperti itu," tutupnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com