Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV Sangat Berat
Senin, 14 Nov 2005 10:51 WIB
Jakarta - Tingginya inflasi yang menyebabkan melemahnya daya beli masyarakat pascakenaikan harga BBM bakal membuat pemerintah kesulitan mencapai pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2005."Skenario untuk pertumbuhan ekonomi kuartal keempat menjadi sangat berat buat kita," kata Menneg PPN/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati usai halal bihalal di Kantor Bappenas, Jalan Taman Suropati, Jakarta, Senin (14/11/2005).Dijelaskan, lemahnya daya beli masyarakat akan menurunkan konsumsi yang selama ini masih merupakan penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meski ekspor dan investasi meningkat, namun faktor konsumsi memiliki peranan yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi."Konsumsi itu masih memiliki kontribusi hampir 70 persen. Jadi kalau inflasi itu menurunkan daya beli masyarakat hingga dia bisa melemah, pasti akan mempengaruhi, terutama kuartal terakhir nanti," ujar Sri Mulyani.Untuk itu pemerintah akan mengambil sejumlah kebijakan guna meredam dampak-dampak inflasi, antara lain dengan memberikan subsidi langsung tunai (SLT), biaya operasional sekolah, dan penciptaan proyek padat karya."Itu kita mengharapkan ada kompensasi dari sisi daya beli. Meskipun tidak satu banding satu, dalam artian mereka yang daya belinya tergerus paling banyak melalui inflasi ini terutama adalah masyarakat menengah dan miskin di perkotaan," urainya.Pemberian SLT akan difokuskan pada masyarakat-masyarakat di pedesaan dan daerah tertinggal. "Sehingga daya beli yang lebih banyak tertolong adalah mereka yang di luar perkotaan. Aspek bersihnya seperti apa, kita akan terus memantau," katanya.Meski mengakui kuartal keempat cukup berat, namun pemerintah tetap optimistis bisa mencapai minimum target inflasi dalam rencana pembangunan jangka menengah, yakni 5,5 persen pada tahun 2005. "Masih akan tercapai dengan inflasi yang begitu tinggi," ujar Sri Mulyani yakin.
(qom/)











































