Vape Mau Dilarang, Penjual: Kami 95% Lebih Aman dari Rokok

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 11 Nov 2019 17:38 WIB
Foto: (iStock)
Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mengatakan alasan pelarangan rokok elektrik dan vape lantaran bahan bakunya mengandung senyawa kimia yang berbahaya bagi tubuh.

Menanggapi hal tersebut, Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) memberikan pernyataan bahwa berdasarkan kajian ilmiah BPOM Inggris atau Public Health England (PHE), rokok elektrik dan vape 95% jauh lebih aman dibanding rokok tembakau yang dibakar.

"PHE semacam BPOM di sana, mereka bilang vape 95% lebih aman dibandingkan rokok yang dibakar," kata Kepala Humas APVI, Rhomedal kepada detikcom, Senin (11/11/2019).

Rhomedal mengatakan, rokok elektrik dan vape adalah proses penguapan bahan yang memiliki food grade.

"Dan di situ dijelaskan karena itu merupakan proses penguapan dari material yang semuanya food grade," imbuh Rhomedal.


Ia juga menjelaskan soal beberapa kandungan dalam rokok elektrik dan vape yang dinilainya masih aman dan juga tak hanya terkandung dalam dua jenis rokok kekinian tersebut, tapi juga terkandung dalam produk-produk keseharian lain, misalnya nikotin yang juga terkandung dalam kentang.

"Nikotin berbahaya itu betul, tapi nikotin dalam jumlah yang kecil itu bagus untuk metabolisme tubuh dan banyak dokter yang mengatakan itu. Bukan opini saya, tapi opini dokter. Dokter-dokter yang ditanya, banyak sumber yang kita wawancara, dokter-dokter yang memang netral. Nikotin itu kalau dibilang berbahaya berarti manusia nggak boleh makan kentang dong, karena kan kentang mengandung nikotin," tutur dia.

Selain itu, menurutnya perisa dalam rokok elektrik dan vape adalah kandungan food grade yang juga ada di produk makanan dan minuman lain.

"Tadi kalau dibilang ada kandungan berbahaya dari perisa, perisa itu kan perisa food grade. Ketika kita beli minuman atau makanan yang dijual umum itu kan mengandung perisa yang food grade," paparnya.


Selain itu ia juga menyebutkan tentang kandungan kimia propylene glycol yang tak hanya ada dalam rokok elektrik dan vape, tapi juga terkandung dalam obat batuk.

"Kadang ada yang bilang juga propylene glycol itu adalah bahan kimia. Masalahnya kita minum obat batuk pada saat kita batuk itu semuanya dibuat dengan propylene glycol," ucap Rhomedal.

Untuk itu, APVI meminta agar pelarangan dari pemerintah didasarkan dengan kajian ilmiah yang valid.

"Yang diharapkan dari asosiasi sebetulnya adalah Kemenkes itu membuat kajian, melakukan penelitian terlebih dahulu yang tidak didasarkan dengan opini atau sumber data yang menurut saya nggak tahu dari mana. Tapi yang seharusnya dilakukan oleh sebuah negara adalah melakukan kajian tersendriri, di Kementerian Kesehatan sendiri, coba dong. Makanya kenapa APVI menulis surat ke Kemenkes untuk serius melakukan kajian," jelas Rhomedal.

Sebelumnya, Penny menyebutkan kandungan senyawa kimia berbahaya bagi kesehatan, diantaranya nikotin, propylene glycol, Perisa (Flavoring), logam, karbonil, serta tobacco specific nitrosamines (TSNAs), dan diethylene glycol (DEG).

Tidak hanya itu, BPOM juga menjelaskan bahwa kajian yang menyatakan rokok elektrik dan vape sebagai terapi berhenti merokok merupakan hasil kajian yang subyektif.

Bahkan, kata Penny, WHO tidak menemukan bukti yang kuat bahwa rokok elektrik dan vape sebagai terapi berhenti merokok.

"WHO menyatakan tidak ada cukup bukti untuk menunjukkan rokok elektronik dapat digunakan sebagai terapi berhenti merokok," tegasnya.




Simak Video "Jangan Bawa Vape Kalau Berkunjung ke Negara Ini!"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)