APEC Susun Roadmap Busan untuk Realisasikan 'Bogor Goals'
Rabu, 16 Nov 2005 13:24 WIB
Jakarta -
Ditemukannya sejumlah laporan baru bahwa masalah hambatan dalam perdagangan dan investasi telah menjatuhkan perekonomian negara Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) secara signifikan. Hal ini akan direspons dengan membuat Roadmap Busan yang diharapkan bisa segera merealisasikan Kesepakatan Bogor atau Bogor Goals.Roadmap Busan yang dibuat di tingkat Menteri Ekonomi APEC itu akan dibahas pada pertemuan pemimpin 21 negara anggota Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Busan, Korea Selatan pada 18-19 November. Bogor Goals yang dilahirkan di Indonesia pada pertemuan APEC 1994 merumuskan perdagangan dan investasi bebas di kawasan Asia Pasifik pada 2020 untuk negara berkembang dan 2010 untuk negara maju.Roadmap Busan diharapkan bisa lebih menjamin kesepakatan perdagangan bebas dan investasi dapat lebih dijangkau sesuai target yang diharapkan. Menteri Perdagangan Korea Kim Hyun Chong, seperti dikutip dari situs APEC, Rabu (16/11/2005) mengatakan, sasaran tahun 2005 adalah menjembatani antara masalah yang ada sejak pembentukan APEC tahun 1989 hingga sasaran yang akan dicapai tahun 2020 untuk anggotanya dengan melihat kebutuhan dan rencana ke depan masing-masing negara."Forum ini telah menghasilkan kesepakatan yang besar selama satu setengah dekade sejak berdirinya APEC, dan sekarang kita membutuhkan roadmap untuk pencapaian target tersebut," ujar Kim.Menurutnya, sejumlah hambatan tarif rata-rata telah mengalami penurunan dari 16,9 persen di tahun 1989 menjadi rata-rata tinggal 5,5 persen di tahun 2004. Fakta yang ada juga menunjukkan hampir separuh negara anggota APEC telah menetapkan tarif di bawah 5 persen, bahkan pada sejumlah barang tarifnya nol.Dalam periode yang sama juga terlihat bahwa perdagangan barang dan jasa antarnegara APEC meningkat lebih dari tiga kali lipat yang menyumbang pada meningkatkan pertumbuhan domestik bruto (GDP), yang naik dari 13,8 persen di tahun 1989 menjadi 18,5 persen di tahun 2003. Jumlah tenaga kerja juga meningkat sekitar 18 persen di negara-negara APEC pada tahun 1999-2002."Yang menjadi persoalan subtansi adalah meningkatkan pertumbuhan perdagangan jasa. Sedangkan hambatan untuk investasi harus dikurangi dan APEC bisa menjadi pelopor di dunia dalam mengenalkan pentingnya perjanjian perdagangan bebas untuk menghasilkan kesepakatan perdagangan regional," jelas Kim.
(ir/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































