Lipsus Bisnis Tukang Parkir

Gurihnya Perputaran Uang di Bisnis Parkir

Hendra Kusuma - detikFinance
Minggu, 24 Nov 2019 10:41 WIB
Foto: Hendra Kusuma - detikcom
Jakarta - Uang yang berputar di bisnis parkiran sangat besar dan belum banyak orang yang menyadarinya. Meski retribusi atau tarif parkir yang selama ini tidak seberapa, jika dikumpulkan selama satu bulan jumlahnya sangat besar.

Bisnis parkiran di Indonesia sendiri sejatinya ada dua konsep, offstreet yang biasanya ada di pinggir jalanan dan onstreet yang berada menyatu dalam satu gedung. Skema tarif yang diberlakukan pun ada dua, flat atau progresif.

Kedua skema tarif ini sama-sama memiliki keuntungan yang menjanjikan bagi pihak pengelolanya. Seperti pengakuan Direktur Utama PT Panca Karya Putra Griya Tama, Ganyong. Perusahaan yang dipimpinnya ini mengelola sebuah parkiran di salah satu pasar di Kota Tangerang.

Dia mengaku bisa mengumpulkan pendapatan hingga puluhan juga setiap bulannya dari lahan parkir. Bahkan, pendapatan perusahaan induknya yang mengelola pasar pun kalah telak dari penghasilan pengelolaan parkiran.

"Kalau PT Panca Griya Tama itu khusus pengelolaan pasar, tapi kalau PT Panca Karya Putra Griya Tama anak usaha yang ngelola parkirnya, dan saya Dirutnya. (Penghasilan terbesar) ya parkir lha, karena kalau kios sewa," kata dia kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Dia menceritakan bahwa bisnis parkiran yang dijalankan belum menganut sistem yang baik. Di mana tarif yang diberlakukan merupakan tarif terendah dan berlaku flat. Artinya, berapa lama kendaraan yang parkir tarifnya sama, baik motor dan mobil.

Adapun tarif yang diberlakukan sampai sekarang untuk motor sebesar RP 2.000, mobil Rp 3.000, dan becak sebesar Rp 1.000. Dengan skema itu, setiap satu hari perusahaannya bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 3 juta. Jika dijumlahkan selama satu bulan maka totalnya Rp 90 juta.

"Fluktuatif, kadang-kadang ada diangka misalnya satu hari satu malam Rp 4 juta, kadang-kadang Rp 3,5 juta, kalau hari libur beda lagi, itu hitungan per hari, kalau dirata-ratain sehari Rp 3 juta per hari," jelas dia.

Penghasilan dari pengelolaan parkir yang menerapkan tarif flat pun bisa mencapai puluhan juta. Apalagi dengan skema progresif, yang setiap jam tarifnya bertambah. Otomatis perputaran uang di bisnis parkiran sangat besar dan tentunya masih banyak masyarakat yang memandang sebelah mata.

Sementara itu, Abuy, memiliki lahan parkir khusus motor di pasar lama, Kota Tangerang. Pasar ini dalam lima tahun terakhir menjadi pusat kuliner di Tangerang dan mulai banyak digandrungi oleh semua kalangan.

Abui mengaku setiap harinya bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 500 ribu. Sehingga jika dijumlahkan selama satu bulan penghasilannya mencapai Rp 15 juta.

Menurut Abuy, penghasilan yang didapatnya ini sudah termasuk dari retribusi yang sudah disetorkan kepada Dinas Perhubungan Kota Tangerang. Tarif yang diberlakukannya pun seikhlasnya, namun biasanya paling rendah sebesar Rp 2.000.

"Sehari Rp 500 ribu dapat lha, kan sudah ramai, Rp 500 ribu bagi-bagi ada lima orang. Nanti dibagi-bagi saja, alhamdulillah lha. Kalau dulu kan sendiri tapi banyak bengongnya," kata pria yang sudah bergelut di bisnis parkir sejak 1995.

Dengan perputaran uang di bisnis parkir yang besar pun dirinya berharap pemerintah bisa memberikan payung hukum terhadap para profesi juru parkir di Pasar Lama. Selama ini, dirinya memang sudah masuk pendataan dari Dinas Perhubungan Kota Tangerang.

Namun, dirinya pun berkeinginan mendapatkan seragam resmi dari Pemerintah. Sehingga, jika ada yang mempermasalahkan kegiatan usaha otomatis Pemerintah memback-up. Apalgi, setiap harinya selalu menyetor retribusi kepada pihak Dishub.

"Makanya kalau Pemerintah mau harus didata dan ditata, kita semua mau, nanti kalau ditata lalu dibagikan seragam, selama ini saya setoran ke Dishub," jelas dia.

"Pokoknya lapak saya Rp 50 ribu dari jam 3 sampai malam. Saya bayar setoran agar parkir saya tidak disebut liar, didata dan ada suratnya dari Dishub," sambungnya.


Gurihnya Perputaran Uang di Bisnis Parkir


Simak Video "Dedikasi 'Polantas' Difabel Mengatur Lalu Lintas"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/zlf)