Menkeu: Inflasi Bisa di Bawah 1% Pada November-Desember
Rabu, 16 Nov 2005 17:55 WIB
Jakarta -
Pemerintah memperkirakan inflasi bulanan untuk periode November dan Desember 2005 dibawah 1 persen. Pada Oktober lalu inflasi meroket hingga 8,7 persen akibat kenaikan harga BBM.Sedangkan inflasi tahun ini dipastikan tetap mencapai dua digit. Pasalnya, inflasi sejak Januari-Oktober 2005 saja sudah mencapai 15,65 persen."The worst is over (yang terburuk telah berlalu). Bulan ini di bawah satu persen dan bulan depan di bawah 1 persen. Tapi untuk deflasi tidak mungkin," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Jusuf Anwar usai rapat Pansus pembahasan RUU Bea dan Cukai di Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (16/11/2005).Menkeu juga menyatakan optimismenya bahwa inflasi tahun 2006 akan kembali turun. Seperti hasil riset Danareksa Research Institute (DRI), ungkap Menkeu, yang memperkirakan inflasi tahun depan mencapai 5 persen."Tapi tahun ini memang double digit, nggak apa-apalah. The worst is over, menderita sedikit demi perbaikan," katanya.Sementara Menneg PPN/Kepala Bappenas Sri Mulyani di kantornya, Gedung Bappenas, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Rabu (16/11/2005) mengatakan, pada kuartal I-2006 masih akan ada dampak ikutan inflasi dari tahun sebelumnya.Namun secara perlahan-lahan akan mulai menurun pada bulan-bulan terakhir di tahun 2005 ini. Penurunan inflasi pada kuartal pertama 2006 tersebut, kata Sri, tidak drastis atau langsung menuju satu digit. Pasalnya, masih ada tekanan terhadap inflasi, seperti Natal, Tahun Baru dan tahun ajaran baru.Tekanan inflasi tahun depan juga akan datang dari rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada tahun 2006 ini, serta berlakunya kenaikan upah minimum regional (UMR) pada Januari 2006.Upaya pemerintah untuk mempercepat penurunan inflasi ini, menurut Sri, dilakukan melalui stabilitas harga komoditi. "Selain itu juga tidak ada alasan tarif angkutan umum menaikkan harga kembali, karena sudah dilakukan beberapa waktu lalu," ujar Sri.
(ir/)










































