Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 27 Nov 2019 08:22 WIB

Kisah Ciputra, Ali Sadikin, dan Liem Sioe Liong

Pasti Liberti Mappapa, Melisa Mailoa - detikFinance
Halaman 1 dari 2
Ciputra. Foto: Achmad Dwi Afriyadi-detikcom
Jakarta - Gaya Ali Sadikin memimpin Jakarta memang tak ada duanya. Dia seorang letnan jenderal KKO Angkatan Laut dan tak punya pengalaman secuil pun memimpin suatu wilayah.

Tapi justru dialah yang diminta oleh Presiden Sukarno memimpin Ibu Kota Jakarta pada 1966, melewati badai krisis ekonomi dan krisis politik sekaligus.

Kala itu, sudah lebih dari lima tahun Ciputra dan PT Pembangunan Jaya menggarap proyek peremajaan kawasan Senen. Proyek tersebut merayap pelan lantaran dibelit rupa-rupa masalah. Bukan cuma duit yang tipis, tapi yang utama urusan penggusuran dan relokasi warga yang terimbas proyek.

Masalah pertama adalah seorang mayor yang tinggal di Senen dan menolak pindah. Berkali-kali upaya membujuk dia agar pindah tak membawa hasil. Sang mayor malah datang langsung ke kantor Ciputra. Sembari marah-marah, dia masuk ke ruangan Ciputra, menggebrak meja dan meletakkan pistolnya.

"Pak, ini proyek pemerintah DKI Jakarta," Ciputra mengisahkan, dikutip dalam buku Jaya: 50 Years and Beyond.

Bukannya mundur, mayor itu malah makin marah. "Eh, kamu mau melawan saya," kata mayor itu. Setelah kemarahan mayor itu agak reda, Ciputra memaparkan panjang-lebar soal manfaat proyek Senen. Sembari menggerutu, orang itu berlalu.

Pada kesempatan lain, Ciputra dan anak buahnya menghadapi masalah lumayan serius. Ada seorang makelar tanah menghalangi upaya pembebasan tanah. Makelar itu mengumpulkan semua pemborong dan berhasil membujuk mereka menghentikan proses pembebasan tanah.

Walhasil, pengerjaan proyek terhenti. Ciputra pergi ke Balai Kota dan melaporkan masalah itu kepada Gubernur Ali Sadikin.

Gubernur Ali meminta Ciputra mengundang si makelar ke Balai Kota. Ciputra bergegas ke Senen. Makelar itu tak berkeberatan diajak Ciputra ke kantor Gubernur Ali.

Saat mereka berdua menunggu di ruang sekretariat Balai Kota, Gubernur Ali lewat. Dia bertanya kepada Ciputra ada di mana si makelar. Ciputra menunjuk orang di sampingnya.

Tak disangka oleh makelar itu, juga oleh Ciputra, Gubernur Ali menarik kerah baju orang itu dan menyeretnya ke ruangan. Dan plak... plak... tangan Gubernur Ali melayang ke pipinya. Makelar itu tak berani melawan, hanya pasrah pipinya ditempeleng Ali Sadikin. Ciputra pun melongo. Bengong.

"Di mobil, dia duduk di sebelah saya. Gemetaran.... Saya nggak menyangka Bang Ali menempeleng orang itu," kata Ciputra.

Sore harinya, Gubernur Ali mendadak muncul di Proyek Senen dan mendatangi kantor makelar tanah itu. Dia menyuruh orang itu menutup kantornya.

"Ya, Pak... iya," orang itu menjawab dengan ketakutan. Sejak hari itu, tak ada lagi yang berani menghalangi proyek Senen.

Puas terhadap hasil kerja Ciputra dan anak buahnya di Proyek Senen, Gubernur Ali mempercayakan banyak proyek kepada Pembangunan Jaya. Bahkan tak sedikit proyek yang diberikan langsung kepada Pembangunan Jaya tanpa proses lelang lagi, misalnya pembangunan lima terminal, yakni Grogol, Cililitan, Kramat Jati, Blok M, dan Tanjung Priok.

Kebijakan Ali Sadikin itu diprotes Kementerian Dalam Negeri. Tapi bukan Ali Sadikin jika tak punya 'jawaban'.

"Kata Bang Ali, 'Sudah saya putuskan! Sebab, kalau saya lelang, malah bisa amburadul.' Bang Ali kan bisa nyap-nyap seperti itu. Dia pemberani. Orang Kementerian Dalam Negeri nggak ada yang bicara lagi setelah itu," Soekrisman, Direktur Pembangunan Jaya kala itu, menuturkan.

Pembangunan Jaya kembali ditunjuk Gubernur Ali menjadi pelaksana proyek pembangunan Gedung G setinggi 24 lantai di kompleks Balai Kota Jakarta.

Saat muncul suara lagi mengkritik penunjukan perusahaan yang didirikan Ciputra itu, Gubernur Ali menjawab, "Kita harus kayak Jepang. Jepang punya perusahaan seperti Mitsui dan Mitsubishi. Perusahaan-perusahaan itu besar karena didukung pemerintahnya," Soekrisman menirukan Bang Ali.

Ya, sedikit-banyak, Ali Sadikin punya andil atas perkembangan Pembangunan Jaya, dari sekadar perusahaan kecil yang didirikan Ciputra bersama Hasjim Ning dan sejumlah investor pada 1961 hingga berkembang jadi konglomerasi.

Tak cuma mempercayakan pembangunan infrastruktur Jakarta, Gubernur Ali Sadikin juga 'menugasi' Ciputra untuk sejumlah hal, misalnya membina pengembangan olahraga lewat klub Jaya Raya dan turut 'membidani' kelahiran majalah Tempo pada 1971.

Lanjut ke halaman berikutnya >>> (sap/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com