Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 04 Des 2019 10:01 WIB

Laporan dari London

Menjajal Kereta Bawah Tanah Pertama Dunia

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Eduardo Simorangkir Foto: Eduardo Simorangkir
London - Menjajal transportasi umum di sebuah negara merupakan cara singkat mempelajari budaya atau gaya hidup di suatu daerah atau negara. Hal itu pula yang saya lakukan saat berkunjung ke London beberapa waktu lalu.

London dikenal memiliki moda transportasi umum kereta bawah tanah atau yang dikenal dengan sebutan the Tube atau London Underground. London Underground merupakan jalur kereta api bawah tanah tertua atau yang pertama di dunia.

Jika di Indonesia pembangunan kereta bawah tanah pertama baru dimulai pada tahun 2013, maka London sudah memulainya ratusan tahun sebelum itu. London Underground bahkan sudah mulai beroperasi pada tahun 1863, di mana saat itu kereta masih mengandalkan tenaga uap hingga akhirnya mulai mencoba penggunaan tenaga listrik pada 1890.


Pada 1968, London bahkan sudah mulai mencoba pengoperasian kereta secara otomatis di jalur Victoria Line. Jalur tersebut merupakan jalur kereta otomatis pertama di dunia.

Dengan level 'senior' yang jauh lebih tinggi dibandingkan MRT Jakarta, tentu saja penampakan stasiun-stasiun kereta di London tak se-modern atau se-kinclong di Jakarta. Meski begitu, stasiun-stasiun London Underground yang sudah berumur ratusan tahun tersebut masih sangat nyaman dilewati dan penggunanya juga tertib.

Stasiun-stasiun kereta bawah tanah di London memiliki kedalaman yang super rendah. Maklum, 1 stasiun saja bisa berlapis 3-5 tingkat ke bawah melayani jalur yang berbeda-beda. Untuk itu, ketika sudah turun ke bawah stasiun biasanya sinyal operator seluler kita otomatis akan langsung hilang.

Menjajal Kereta Bawah Tanah Pertama Dunia di LondonFoto: Eduardo Simorangkir

Pengalaman berjalan di stasiun juga menyenangkan ditemani berbagai macam iklan yang memenuhi dinding stasiun. Iklan-iklan tersebut ditempel sangat rapi hingga ke peron dan dinding jalur kereta.

Di dalam kereta, penumpang bisa sangat penuh saat pagi dan sore hari. Tak sama seperti di Jepang dan Indonesia, tidak ada kereta khusus wanita di sini.

Jika ingin naik ke dalam kereta, perhatikan celah peron yang lebih rendah dibandingkan pintu masuk kereta. Inilah yang membuat kereta di London terkenal dengan istilah 'Mind the Gap' lantaran jika ingin naik dan turun dari kereta, penumpang harus berhati-hati karena permukaan pintu masuk kereta dan peron tidak sama.


Dan jangan lupa, jika ingin berdiri tetap saat di eskalator, penumpang bisa mengambil sisi kanan. Aturan ini berbeda dengan Jepang dan Indonesia yang menggunakan sisi kiri untuk berdiri tetap.

Menjajal kereta bawah tanah di London bisa menggunakan tiga cara, yakni dengan menggunakan single trip, trip harian/day pass (untuk zona tertentu), atau menggunakan kartu pintar Oyster dengan deposit sebesar £5 atau sekitar Rp 90.000 (kurs Rp 18.000).

Biaya penggunaan transportasi umum di London memang cukup mahal jika dirupiahkan. Tarif kereta lebih mahal dibanding bus karena lebih cepat dan tanpa macet.

Meski mahal, mayoritas penduduk di London memilih menggunakan kereta lantaran cepat dan tanpa macet. Jika mau menggunakan kendaraan pribadi, siap-siap saja stres. Bukan hanya karena macet, tapi juga biaya tetek bengeknya yang cukup mahal.

London Underground memiliki setidaknya 11 jalur, di mana tiap-tiap jalur punya warnanya masing-masing di peta. Jalur-jalur ini tersebar di zona 1-6.

Saat ini, kereta-kereta bawah tanah di London seluruhnya sudah menggunakan tenaga listrik dan beroperasi secara otomatis. Seiring berkembangnya zaman, kereta-kereta di London terus berinovasi dan berkembang dari segi fasilitas dan operasional.

Simak Video "National Gallery, Museum yang Wajib Dikunjungi Saat di London"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com