Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 04 Des 2019 11:22 WIB

Pemain Lama Tak Perlu Ikut-ikutan Bakar Duit Seperti OVO Cs

Soraya Novika - detikFinance
Pemain Lama Tak Perlu Ikut-ikutan Bakar Duit Seperti Ovo Cs. Foto: Mindra Purnomo Pemain Lama Tak Perlu Ikut-ikutan Bakar Duit Seperti Ovo Cs. Foto: Mindra Purnomo
Jakarta - Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali mewanti-wanti pelaku usaha lama agar tak tergoda terjun dalam perang bakar uang sebagaimana yang tengah ramai diterapkan startup belakangan ini. Pasalnya, kemampuan setiap lawan serta tantangan yang dihadapi tentu berbeda satu sama lainnya.

"Pengusaha lama yang terganggu ikut-ikutan bakar uang untuk mengimbangi persaingan. Motifnya untuk mempertahankan pelanggan. Padahal business model dan value creation yang terjadi dalam bisnis model lama dengan start up itu sangat berbeda," ujar Rhenald dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Lebih lanjut, Komisaris Utama PT Telkom ini menjelaskan bahwa DNA setiap pelaku usaha sangat bertolak belakang dan masing-masing mempunyai struktur, proses bisnis dan manajemen yang berbeda. Sehingga, pada akhirnya kelincahan gerak dan struktur biayanya tentu berlainan di pasar.

"Basis manajemen pemain-pemain lama itu adalah heavy assets, sangat tangible, controlling, supply-side, skala ekonomis, dan sangat mengandalkan branding. Ini berbeda dengan basis manajemen startup yang light assets, intangibles, orkestrasi ekosistem, data, dan mengandalkan review dan rating," tuturnya.


Maka dari itu, lanjutnya, pemain baru memilih menjajakan mobilisasi ketimbang marketing, dan orkestrasi ketimbang manajemen.

Lagi pula, menurut Rhenald, sebagian proses bakar uang sudah memasuki tahap stabil dan tak perlu perang-perangan lebih lanjut.

Hal itu terlihat dari bisnis transportasi. Namun, pertempuran besar masih bakal terjadi di sektor retail dan e-commerce, dan yang berpotensi ricuh ada di sektor keuangan, kesehatan dan pendidikan.

Ia juga mengingatkan, keluhan chairman Lippo terkait strategi bakar uang yang harus dihentikan grup ini dengan menjual sebagian besar sahamnya di OVO sebagai sebuah fenomena baru.

"Saya menyebutnya sebagai pertarungan antara old power vs new power. Bakar uang itu adalah tradisi new power yang sudah dilakukan sejak awal revolusi industri oleh setiap pendatang baru atau pendobrak pasar. Namun, hari ini mereka datang dengan strategi longtail. Ekornya yang terlihat dulu tapi panjang sekali, sedangkan sosok hewannya baru kelihatan 10-20 tahun ke depan. Sedangkan old power maunya selalu melihat hewannya dulu, baru ekor pendeknya di belakang," katanya.

Rhenald menjelaskan lebih rinci lagi bahwa masalah pembakar uang pada startup itu memungkinkan sebab kondisinya sangat light assets serta tidak terbeban hutang dari bank.

"Jadi kelak di dunia startup akan tampak perbedaan antara EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization/ Pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) dengan EAT (Penghasilan Setelah Pajak/Pendapatan Bersih) yang tidak selisih jauh, depresiasi dan interest charges-nya mendekati zero," imbuhnya.


Sebaliknya bagi old power, terkondisi dengan heavy assets dan hutang bank berakibat laporan keuangan sangat cepat terbebani depresiasi dan biaya bunga.

"Ini saja sudah membuat oldpower nervous dengan strategi bakar uang," ucapnya.

Maka, agar pelaku usaha lama berhasil dalam memasuki era baru, Rhenald menyarakan agar pengusahanya memahami lebih dulu karakter manajemen dunia baru, ubah pola pikir dan lakukan transformasi mendasar.

"Jangan ikut-ikutan melakukan digitalisasi atau melakukan akuisisi startup sembarangan kalau struktur DNA-nya masih oldpower," pungkasnya.

Simak Video "Indonesia Akan Punya Satu Unicorn Lagi di Akhir 2019"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com