Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 04 Des 2019 21:21 WIB

Bicara Ekonomi RI, Wamenkeu: 2019 Penuh Berbagai Tantangan

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Wamenkeu Suahasil Nazara/Foto: Achmad Dwi Afriyadi/detikFinance Wamenkeu Suahasil Nazara/Foto: Achmad Dwi Afriyadi/detikFinance
Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memaparkan kondisi ekonomi terkini dalam acara Market Outlook 2020 Mandiri Private. Dia mengatakan, kondisi ekonomi dunia tahun 2019 penuh dengan tantangan.

Tantangan tersebut seperti meningkatnya tensi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, Brexit, dan lain-lain.

"2019 sesungguhnya penuh berbagai macam tantangan ekonomi dunia," katanya di Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2019).

Dia mengatakan, ketidakpastian itu membuat ekonomi dunia melambat. Mulanya, ekonomi global diproyeksi tumbuh 3,7%, kini proyeksi itu dipangkas sampai 3%.

"Tahun depan kata IMF 3,4%, kalau tahun ini 3% rasanya menurut kami estimasi IMF 3,4% tahun depan sebentar lagi direvisi ke bawah ini tantangan ya kita hadapi," sambungnya.


Bagaimana dengan Indonesia? Suahasil menjelaskan, pada kuartal III 2019 ekonomi Indonesia tumbuh 5,02%. Menurutnya, ekonomi Indonesia bisa terbilang baik.

"Kalau yang dilihat adalah pertumbuhan, angka terakhir kuartal III 5,02%, bagus apa jelek? Bagus, nyari 5% pertumbuhan ekonomi dunia bukan pertumbuhan ekonomi yang rendah," sambungnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun lalu sekitar 5,2%. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi diproyeksi lebih rendah.

Namun, dia mengatakan, beberapa negara ekonominya turun lebih tajam. Suahasil menjelaskan India 2 tahun lalu ekonominya tumbuh sampai 7%, saat ini kisaran 5%.

Lalu, China yang 2 tahun lalu mengklaim angka pertumbuhan 7% sebagai new normal kini sekitar 6%. Menurut Suahasil ekonomi Indonesia cenderung lebih stabil dan pada tahun ini diproyeksi tumbuh 5,05%.

"Estimasi kami akhir tahun ini 5,05%. Ini bukan pertumbuhan rendah ini pertumbuhan tinggi. Ini pertumbuhan memberi momentum cukup untuk punya optimisme," jelasnya.



Simak Video "Sandi: Pemerintah Terjebak Dalam Pertumbuhan Ekonomi 5%"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com