Pengusaha pun Curhat ke Menperin

Pengusaha pun Curhat ke Menperin

- detikFinance
Jumat, 18 Nov 2005 13:40 WIB
Jakarta - Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja secara khusus mengunjungi Kawasan Industri Pulogadung untuk mendengar permasalahan para pengusaha. Mereka pun tak melewatkan kesempatan itu untuk sekadar berkeluh kesah. Apa saja curhat para pengusaha itu?Berbagai ragam keluhan disampaikan para pengusaha, mulai dari birokrasi yang berbelit, peraturan yang tidak berpihak, lemahnya daya saing dan juga kesulitan bahan baku.Andung sendiri sengaja membuat sesi khusus tanya jawab dengan pengusaha dalam pertemuan yang berlangsung di kantor Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), Jakarta, Jumat (18/11/2005).Sekitar 50-an pengusaha hadir dalam pertemuan yang berlangsung pukul 10.00-12.00 WIB itu. Andung yang mengenakan baju safari abu-abu tampak didampingi oleh tiga dirjennya.Dalam kesempatan tanya jawab tersebut, Dirut PT Aqua Golden Missisipi Tbk, Willy P Sidharta mengeluhkan masalah birokrasi perizinan setelah otonomi."Sebelum otonomi, izin cukup ke BKPM, Departemen Perindustrian dan Mendagri. Tapi sekarang bahkan perlu sampai ke Dewan Perwakilan Desa, dan itu birokrasinya berbelit-belit. Ada perda-perda yang tidak perlu," keluh Willy.Masalah kenaikan harga BBM pun tak luput dari keluhan Willy. Menurutnya, kenaikan harga BBM telah menyebabkan turunnya daya beli. Khusus untuk Aqua, komponen BBM merupakan 4 persen dalam biaya produksi, sementara untuk biaya distribusi 6-8 persen tergantung jangkauan."Tapi dengan kenaikan harga BBM kita hanya bisa menaikkan 50 persen dari yang seharusnya dengan perhitungan kenaikan. Dengan kata lain kita mengurangi marjin," ungkap Willy.Lain halnya keluhan dari Managing Director PT Nobi Putra Angkasa, Iman Abadi, seputar keluarnya pembebasan bea masuk untuk industri penunjang migas dari Menkeu, yang menyebabkan produknya tidak bisa bersaing dengan produk dari luar.Pasalnya, produk dari perusahaan yang bergerak di bidang cable support enclosure ini masih terdapat bahan baku impor yang dikenai bea masuk 15-20 persen seperti Stainless Steel. Akibatnya, dalam tender migas mereka selalu kalah karena harga selalu lebih tinggi 20 persen. Perusahaan ini selalu kalah terutama dari Cina.Iman mengaku tidak membeli komponen dari dalam negeri, misalnya Krakatau Steel karena kualitasnya tidak lebih baik. "Saat ini yang terjadi Indonesia mengekspor bahan baku, lalu industri yang membutuhkan terpaksa mengimpor kembali," keluh Iman.Sementara dari perwakilan UKM, Slamet Subagyo mengeluhkan kesulitan pengusaha kecil bersaing mencari bahan baku dengan industri yang lebih besar."Padahal UKM sangat membantu industri nasional. Kita tidak minta subsidi atau insentif. Tapi kita minta standar aturan main sehingga ada kepastian bahan baku. Dan saya yakin adanya kepastian akan tumbuh UKM lain," tuturnya.Willy mengimbuhkan dengan menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan iklim yang kondusif sehingga investasi tercipta, dan membuka lapangan kerja sehingga daya beli meningkat.Usai menerima curhat pengusaha, Andung melanjutkan acara dengan mengelilingi kawasan JIEP. Salah satu pabrik yang akan dikunjunginya adalah PT Martina Bertho.Solusinya apa Pak Menteri? (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads