Soal Bos BUMN Rangkap Jabatan, Ekonom: Apa Perlu Jadi Komisaris?

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 14 Des 2019 14:45 WIB
Peneliti Indef Berly Martawardaya/Foto: Soraya Novika/detikcom
Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai rangkap jabatan pada petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selama ini tidak menyentuh rasa keadilan di tengah masyarakat. Direktur BUMN dinilai terlalu banyak menduduki kursi komisaris di anak usaha.

"Tentu saja fungsi Dirut (Direktur Utama) mengawasi anak perusahaan itu ada, tapi apakah itu perlu jadi komisaris, apakah perlu sebanyak itu, ini tidak menyentuh rasa keadilan di masyarakat," ujar Peneliti Indef Berly Martawardaya dalam diskusi Populi Center dan Smart FM Network bertajuk 'Garuda dan Momentum Pembenahan BUMN' di Kedai Sirih Merah, Jakarta Pusat, Sabtu (14/12/2019).

Ia kemudian menyinggung soal ekonomi yang sedang loyo. Pendapatan bos BUMN yang rangkap jabatan dinilai bisa menjadi pemantik api cemburu bagi masyarakat.

"Tahun ini dan tahun depan ekonomi kita akan lebih lemah. Melihat ada pimpinan yang rangkap jabatan begitu, tentu membuat masyarakat bertanya-tanya, itu gajinya berapa ya, hingga menimbulkan kecemburuan sosial yang cukup tinggi akhirnya," tuturnya.


Berly mengimbau pemerintah khususnya Menteri BUMN Erick Thohir yang baru menjabat untuk dapat lebih membatasi kursi komisaris bagi bos perusahaan pelat merah.

"Setidaknya yang menjabat banyak anak perusahaan BUMN itu dilihat dulu kinerjanya seperti apa, kalau kinerjanya bagus, masyarakat bisa saja rela dan ok saja bila direksi punya take home pay yang cukup besar, tapi jangan bersenang-senang di atas kesulitan orang lain," imbuhnya.

Isu rangkap jabatan di tubuh BUMN mulai terkuak sejak pencopotan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara oleh Erick. Ari sempat merangkap jabatan komisaris di enam anak dan cucu usaha Garuda Indonesia.


Berikut daftar anak dan cucu usaha Garuda Indonesia yang pernah dibawahi oleh Ari Askhara:

1. Komisaris Utama PT GMF AeroAsia (anak)

2. Komisaris Utama PT Citilink Indonesia (anak)

3. Komisaris Utama PT Aerofood Indonesia (cucu)

4. Komisaris Utama PT Garuda Energi Logistik & Komersil (cucu)

5. Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Air Charter (cucu)

6. Komisaris Utama PT Garuda Tauberes Indonesia (cucu)

Simak Video "Erick Thohir Beberkan Biang Kerok Tagihan Listrik Membengkak"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)