Jurus Industri Tekstil Tahan Gempuran Produk Impor

Zulfi Suhendra - detikFinance
Senin, 16 Des 2019 11:10 WIB
Foto: Rico Bagus
Jakarta - Industri tekstil dan produk tekstil di dalam negeri masih dihantam produk impor. Sejumlah pelaku industri ada yang sampai gulung tikar namun ada juga yang masih eksis menghadapi gempuran impor.

General Manager PT Warna Mardhika Shan Konada mengatakan, gempuran produk impor memang cukup memukul industri tekstil. Khususnya produk impor yang harganya lebih murah dan membanting harga produk lokal.

"Memang produk impor ada yang lebih murah. Tapi ada yang kualitasnya kurang begitu baik. Misalnya dari China ya tahu sendiri. Kualitas produk kita tidak kalah baik. Bahkan diekspor," ujar Shan keterangan resminya, Minggu (15/12/2019).

Dikatakan Shan, jurus agar industri tekstil tak terpengaruh hantaman produk impor adalah konsisten terhadap produk dan produksinya. Itu bisa menumbuhkan kepercayaan terhadap konsumen dan pasar yang eksklusif, sehingga tak terpengaruh produk impor sekalipun harganya murah.


"Konsisten dalam hal produk dan kualitas, selain itu juga kita maintain konsumen kita," ujar.

Selain soal produk impor, Warna Mardhika, pemilik merek Hammer di Indonesia mengaku tantangan lainnya adalah soal perubahan perilaku belanja masyarakat. Meski diakui Shan belum begitu besar, industri mesti bergegas ikut perkembangan teknologi. sempat goyah

"Kita juga harus ikut, kita ada penjualan online, toko juga kita ubah.

Dari tantangan tersebut, dia juga mengaku bisnisnya sempat mengalami naik turun. Dia mengaku sempat menutup sejumlah toko, dan buka di tempat yang lebih potensial atau mengubah konsep seperti yang baru dilakukan di salah satu gerai di kawasan Bekasi.

"Bisnis ada sedikit jatuh, kita rebound lagi, ada tutup adaptasi saja, yang jelek tutup, terus buka lagi. Pertumbuhannya 20% dibanding tahun lalu," ujarnya.


Tahun depan, pihaknya akan kembali membuka 20 gerai dengan investasi sekitar Rp 60 miliar atau Rp 3 miliar per toko.

Seperti diketahui, Direktur Program INDEF, Ester Sri Astuti menjelaskan saat ini industri tekstil di Indonesia memang sedang kurang bersinar. Hal ini karena produk tekstil dari China yang menggempur pasar Indonesia.

Ester menjelaskan industri tekstil dan produk tekstil di Indonesia sempat memasuki era kejayaan pada era 1980an. Kemudian pada 2007 perdagangan industri ini mencatatkan surplus hingga US$ 7,8 miliar.

"Tapi kondisi itu berbalik pada 2008 surplus industri ini tercatat US$ 5,04 miliar dan di 2018 turun jadi US$ 3,2 miliar," kata Ester dalam diskusi publik INDEF di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Simak Video "Ini Koleksi Senjata-Tampang Penembak Mobil Bos Tekstil di Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/fdl)