BKPM Cari Investor Garap Aplikasi Pertanahan Rp 7,3 T

BKPM Cari Investor Garap Aplikasi Pertanahan Rp 7,3 T

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 17 Des 2019 11:17 WIB
Foto: Trio Hamdani
Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sedang mencari investor untuk menggarap proyek Sistem Informasi Pertanahan (SIP) Modern. Proyek aplikasi pertanahan ini diproyeksikan membutuhkan biaya Rp 7,3 triliun.

"Berdasarkan dokumen OBC (Outline Business Casek yang telah disusun, total investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan proyek ini mencapai sekitar Rp 7,3 triliun," kata Deputi Bidang Perencanaan Penanam Modal BKPM Ikmal Lukman di BKPM, Jakarta Selatan, Selasa (17/12/2019).

Dia menjelaskan bahwa estimasi Internal Rate Return (IRR) alias tingkat pengembalian modal dari proyek ini adalah 14% dan jangka waktu kerja sama selama 15 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Cakupan proyek yang dikerjasamakan dengan pihak swasta meliputi pengembangan aplikasi eksisting sistem informasi pertanahan modern, pemeliharaan sistem informasi pertanahan modern, pengembangan modul tambahan sistem informasi pertanahan modern, digitalisasi dan validasi data textual serta adjustment data spasial," sebutnya.


Selanjutnya, yang juga dikerjasamakan adalah pengadaan perangkat keras (hardware), aktivitas pendukung, serta menyediakan sumber daya untuk aktivitas operasional.

Dia menilai antusiasme pelaku usaha cukup tinggi terhadap proyek ini. Pada market sounding hari ini, peserta yang hadir berasal dari dalam dan luar negeri.

"Berdasarkan catatan kami, terdapat sekitar 50 badan usaha yang berasal dari perusahaan swasta dan BUMN yang terdiri dari bidang usaha teknologi informasi, perbankan dan lembaga keuangan, konsultan serta asosiasi bisnis terkait," terangnya.

Dia menjelaskan bahwa Outline Business Case dari proyek ini masih dalam tahap penyempurnaan. Market sounding ini dilakukan untuk mendapatkan masukan dari pasar terhadap bentuk kerja sama yang ditawarkan.

"Feedback dimaksud tidak saja dari sisi teknis tetapi juga sisi keuangan, sosial dan lingkungan bahkan alokasi risiko yang ditawarkan. Selanjutnya feedback tersebut akan menjadi masukan dalam penyempurnaan Outline Business Case," tambahnya.



(toy/eds)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads