Mentan: Impor Beras Tidak Perlu

Data Tak Akurat

Mentan: Impor Beras Tidak Perlu

- detikFinance
Senin, 21 Nov 2005 12:18 WIB
Jakarta - Data yang dipakai Departemen Perdagangan (Depdag) untuk menggolkan impor beras kepada Badan Urusan Logistik (Bulog) ternyata tidak akurat. Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono justru menilai Indonesia tidak perlu impor beras tahun ini karena kebutuhan domestik cukup.Pemerintah, menurut Anton, saat ini belum perlu memberikan izin impor beras, dengan pertimbangan angka ramalan (aram) ketiga dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005, yang menyebutkan angka produksi bisa mencapai 53,98 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 32,86 juta ton beras.Demikian disampaikan Mentan dalam rapat gabungan bersama Sekjen Depdag, Importir Terdatar Gula, dan Bulog di Komisi VI DPR, Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (21/11/2005).Disebutkan, data konsumsi beras BPS sebesar 32,7 juta ton dengan angka ini dirasa sudah cukup dari produksi yang ada. Apalagi kalau memakai prognosis (ramalan) konsumsi Departemen Pertanian (Deptan) yang hanya 30,63 juta ton, sehingga ada kelebihan produksi 2,3 juta ton. Belum lagi ditambah carry over di tahun 2004 dan stok di Bulog."Jadi sebenarnya ketersediaan beras aman, namun kita sadari ada masalah lain di luar produksi," ujar Anton.Dalam raker gabungan itu, Anton juga membantah data yang dipakai Depdag dalam melakukan keputusan impor beras. Pasalnya, Depdag hanya mengambil data dari situs Deptan.Data yang diambil Depdag tentang produksi dan konsumsi, yang tertulis di situs www.deptan.go.id, kebutuhan beras tahun 2004 sebesar 33.669.384 ton beras, sedangkan produksi tahun 2004 sebesar 31.200.941 ton beras, sehingga ada defisit 2.468.443 ton beras.Dalam data di situs juga disebutkan kebutuhan beras tahun 2005 sebesar 32.870.000 ton dan produksi tahun 2005 sebesar 32.257.250 ton, sehingga terdapat defisit 612.750 ton beras."Itu bukan merupakan data riil, tapi hasil prognosa (ramalan) studi Pusat Sosial Ekonomi Pertanian," jelas Anton.Prognosa hasil studi riil tahun 2004 adalah angka BPS yang menyebutkan produksi sebesar 54 juta ton atau setara 33 juta ton beras. Sedangkan pada tahun 2005 produksi beras mencapai 32,8 juta ton.Angka ini, ungkap Anton, telah terbukti bahwa tahun 2004 tidak ada impor beras, yang ada hanya impor beras menir dan ketan untuk industri."Hal ini merupakan bukti tahun 2004 Indonesia sudah bisa swasembada sehingga tahun 2005 tidak perlu izin impor beras," tegasnya.Keputusan impor beras telah disetujui oleh Presiden SBY dalam rapat kabinet terbatas pada 9 September 2005. Saat itu Presiden menyetujui impor beras kepada Bulog sebesar 250 ribu ton, untuk kepentingan darurat.Kabarnya, rapat yang memutuskan impor beras itu memang tidak dihadiri Mentan yang saat itu sedang dinas ke luar negeri. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads