Akibat Flu Burung, Jumlah Peternak Ayam Menyusut 70%
Selasa, 22 Nov 2005 13:54 WIB
Jakarta -
Wabah flu burung yang dinyatakan pemerintah sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) telah menghilangkan pekerjaan peternak ayam. Dari jumlah 12.600 peternak ayam di Indonesia, telah menyusut 70 persen dan 30 persen sisanya mencoba untuk bertahan.Penetapan KLB untuk flu burung dianggap telah membuat masyarakat semakin takut mengkonsumsi ayam. Sedangkan pemerintah dinilai lebih banyak mem-blow up kasus flu burung, ketimbang melakukan penyelesaian masalah yang terpadu.Demikian diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Peternak Ayam Buras Indonesia, Eko Wakadiharja, dalam acara halal bihalal Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) di Restoran Pulau Dua Senayan, Jakarta, Selasa (22/11/2005).Sebenarnya, ungkap Eko, flu burung sudah masuk ke Indonesia sejak 2003, yang mengakibatkan kerugian yang lebih besar. "Tapi pemerintah saat itu bekerja keras tanpa mem-blow up-nya, kondisi itulah yang berbalik dengan sekarang. Apalagi dengan otonomi daerah, anggaran dari pusat belum tentu disalurkan oleh dinas-dinas ke daerah. Misalnya ayam yang dimusnahkan karena terkena flu burung belum tentu diganti," papar Eko. Eko menuding di-blow up-nya kasus flu burung sebagai salah satu jalan untuk membuka impor ayam. Pasalnya, ketersediaan ayam di dalam negeri jauh berkurang untuk memenuhi kebutuhan konsumen. "Ujung-ujungnya isu flu burung untuk melakukan impor dari negara yang bebas flu burung, karena pemerintah harus memenuhi gizi rakyat Indonesia yang butuh ayam dan telur," tuding Eko.Eko menyesalkan ditetapkannya masalah flu burung sebagai KLB. Menurutnya, jika memang flu burung bisa mematikan maka yang mati pertama kali adalah peternak."Jadi apakah sudah pasti orang sakit paru-paru itu karena kena flu burung," tanyanya.Menurutnya, dibesar-besarkannya kasus flu burung diperkirakan telah menyebabkan kerugian hingga triliunan rupiah. Pasalnya, untuk pemberian vaksin saja dibutuhkan dana sebesar Rp 84 miliar, belum lagi kerugian dari kematian ternak.Diperkirakan, kebutuhan ayam untuk Natal dan Tahun Baru tidak cukup dengan jumlah peternak yang ada saat ini. Sementara peternak yang sudah bangkrut, masih trauma untuk memulai usaha lagi selain terkendala modal.
(ir/)










































