3 Tantangan Ekonomi Harus Tuntas

Untuk Capai Pertumbuhan 6,2%

3 Tantangan Ekonomi Harus Tuntas

- detikFinance
Kamis, 24 Nov 2005 11:20 WIB
Jakarta - Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen pada tahun 2006, pemerintah perlu melakukan upaya ekstra keras. Ada sejumlah tantangan yang harus ditangani pemerintah. Apa saja?"Bank Indonesia (BI) memprediksikan dengan data-data asumsi yang ada, untuk mencapai 6,2 persen akan perlu suatu gerakan yang sungguh-sungguh. Perlu ekstra kerja keras. Angka 6,2 persen itu bisa dicapai kalau ekstra serius dan konsisten," ujar Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom.Ia menyampaikan hal tersebut dalam seminar bertajuk "Economic Outlook 2006" di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (24/11/2005).Namun demikian, Miranda menilai optimisme perlu dipupuk untuk mencapai angka pertumbuhan tersebut. Hal ini berdasarkan laporan dari Bank Dunia yang menyebutkan volume perdagangan dunia tahun 2006 mengindikasikan adanya kenaikan dari 7 persen menjadi 7,4 persen. "Sehingga kalau kita bekerja keras, ini menjadi peluang bagi kita," ujar Miranda.Miranda mengungkapkan beberapa tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2006 yakni pertama, tekanan terhadap ketidakstabilan makro karena masih adanya pengaruh dari kenaikan harga BBM yang berupa second round effect yang masih tersisa hingga akhir tahun 2005."Dampak second round yang masih tersisa seharusnya diterjemahkan melalui adanya efisiensi pada tahun 2006," ujar Miranda. Tantangan kedua adalah kenaikan harga minyak dunia yang cukup tinggi dan juga masih adanya tren kenaikan suku bunga Fed. "Ini yang akan mempengaruhi domestik. Kenaikan BI rate telah memaksa bank-bank untuk melakukan efisiensi dan memperoleh net interest margin yang lebih rendah," tambahnya.Adanya kenaikan suku bunga diakui Miranda akan menyebabkan NPL meningkat. "Kondisi ini harus disikapi secara positif sehingga memasuki tahun 2006, perbankan sudah siap," kata Miranda.Tantangan ketiga adalah dari faktor eksternal lainnya. Meski neraca pembayaran saat ini masih surplus, namun risiko masih mengintai. Antara lain dari penarikan utang luar negeri yang masih rendah. Ditambahkan Miranda, realisasi pinjaman proyek hingga kini belum maksimal. Dari sekitar US$ 3,5 miliar, baru 50 persen yang terealisasi. "Kalau disikapi dengan benar, maka ketiga tantangan ini bisa diatasi," tegas Miranda.Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu, Miranda menyarankan agar sektor industri harus diperkuat guna menambah daya saing dengan industri luar negeri. Pembangunan proyek-proyek infrastruktur pada tahun 2006 juga harus direalisasikan sehingga mampu menyerap tenaga kerja. "Ekspor dan investasi juga perlu dipacu," tambahnya.Untuk pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2005, dengan asumsi pola pertumbuhan ekonomi sama seperti tiga tahun terakhir, BI memperkirakan angkanya mencapai 5,2-5,6 persen. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan tahun 2004. Namun masih rendah dari target pada APBN 2005 yakni sebesar 6 persen. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads