Harga Minyak Diprediksi di Level US$ 60-70 per Barel

Up dated

Harga Minyak Diprediksi di Level US$ 60-70 per Barel

- detikFinance
Kamis, 24 Nov 2005 13:18 WIB
Jakarta - Meski kini sudah surut di level US$ 58 per barel, namun harga minyak tahun 2006 diprediksi akan tetap tinggi pada kisaran US$ 60-70 per barel. Permintaan yang tinggi masih menjadi pemicunya.Prediksi itu disampaikan pengamat perminyakan Kurtubi dalam seminar bertajuk "Economic Outlook 2006" di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (24/11/2005)."Hal ini mengindikasikan bahwa era harga minyak murah di bawah US$ 40 per barel sudah berakhir. Saya memperkirakan harga minyak di level US$ 65 per barel dengan probabilitas 80 persen melihat kondisi yang ada," kata pria bergelar doktor ini.Permintaan minyak yang masih besar datang dari Cina. Negara tirai bambu ini merupakan salah satu negara yang konsumsi minyaknya cukup tinggi untuk membiayai perekonomiannya yang melesat. Permintaan itu tetap tinggi meskipun Cina telah menurunkan target pertumbuhan konsumsinya dari 14% menjadi 6%.Sementara permintaan minyak negara non OPEC saat ini mencapai 87 juta barel per hari. Padahal kemampuan produksi hanya mencapai 50 juta barel per hari. Jadi ada kebutuhan sekitar 37 juta barel yang harus dipenuhi negara-negara OPEC.Kurtubi menambahkan, saat ini ada dua negara yang kemampuan kuota produksinya tidak terpenuhi dan salah satunya Indonesia. Dari target 1,2 juta barel, Indonesia hanya mampu memproduksi 1,075 juta barel per harinya."Pembangunan kilang baru sangat prospektif mengingat kapasitas kilang yang masih defisit dan tingginya permintaan BBM," ujarnya.Untuk itu, pria yang pernah kesandung iklan BBM ini menyarankan agar manajemen perminyakan nasional perlu dirombak agar lebih efisien sehingga eksplorasi kembali meningkat dan Indonesia bisa kembali menjadi net oil exporter.Krisis minyak yang saat ini terjadi, menurut Kurtubi, tidak akan menimbulkan resesi perekonomian seperti yang terjadi pada awal tahun 1980-an. Perbedaannya, pada tahun '80-an saat terjadi krisis, harga bensin adalah sekitar US$ 2,90 per galon atau sekitar Rp 7.600 per liternya. Sehingga rata-rata pengeluaran untuk bensin sekitar 7 persen dari pendapatan. Pada tahun 2005, rata-rata harga bensin sekitar US$ 2,50 per galon atau sekitar Rp 6.600 per liter. Namun pengeluaran untuk bensin hanya sekitar 3,5 persen dari pendapatan. Tidak terjadinya resesi juga karena masyarakat dunia sudah menerima kenyataan tingginya harga minyak. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads