Pertamina 'Hidupkan' 40 Lapangan Migas Nonaktif Mulai 2006
Kamis, 24 Nov 2005 16:57 WIB
Banten - Pertamina akan mengaktifkan kembali (reaktifasi) pengelolaan 40 lapangan migas yang sudah tidak aktif lagi mulai tahun 2006. Langkah ini diharapkan bisa meningkatkan produksi minyak mentah Pertamina."Dari 160 lapangan yang di bawah wilayah kerja ada sekitar 40 lapangan yang tidak aktif. Ini berasal dari lapangan tua. Lapangan baru ini dulu tidak dikerjakan karena cadangannya sedikit," kata Direktur Pengembangan Usaha PT Pertamina EP, Tri Siwindono di Anyer, Kamis (24/11).Siwindono memaparkan, 40 lapangan migas nonaktif tersebut berlokasi di 15 wilayah di Indonesia, antara lain Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, sebagian Jawa Barat, dan sebagian Jawa Timur.Total produksi minyak mentah Pertamina tahun 2005, baik dari lapangan yang dioperasikan sendiri maupun secara kerja sama dengan para KPS mencapai 135.000 barel per hari (bph). "Target tahun depan bisa meningkat jadi 152.550 barel per hari," kata Siwindono.Saat ini, produksi minyak Pertamina terutama berasal dari Jawa bagian barat sebesar 18.000 bph, Sumatera Selatan 14.000 bph, Kalimantan 6.000 bph, Aceh 3.000 bph dan Papua 700 bph.Sedangkan, produksi gas Pertamina yang saat ini mencapai 1,067 juta kaki kubik diperkirakan turun 3 persen pada tahun 2006. "Penurunan produksi gas itu akibat adanya kendala di lapangan," ujarnya.Untuk pendanaan pengembangan 40 lapangan tidak aktif ini, jelas Tri Siwindono, 100 persen akan berasal dari equity Pertamina. "Lapangan tersebut umumnya skala kecil dan risikonya kecil karena tinggal mengembangkan," paparnya.10 Blok Migas BaruDi samping pengembangan 40 lapangan yang tidak aktif, menurut Tri Siwindono, Pertamina EP juga berencana akan melakukan eksplorasi di sejumlah blok migas yang merupakan temuan baru di wilayah kerja (KP) Pertamina.Dikatakan Tri Siwindono banyak perusahaan multinasional asing yang telah menyatakan minatnya untuk bekerjasama dengan Pertamina untuk mengeksplorasi ke-10 blok migas tersebut. Beberapa diantaranya adalah Chevron-Texaco, Total Indonesie, ExxonMobil Oil Indonesia, dan Anadarko.Selain asing, perusahaan nasional juga ada yang berminat di antaranya Medco Energi International."Untuk major company, kita lebih prepare untuk lahan-lahan eksplorasi yang resiko dan potensinya tinggi. Karena kita mau share risiko dengan mereka. Kita harapkan kerja sama itu bisa terealisasi mulai tahun 2006," ungkapnya.Blok-blok yang diincar tersebut seperti blok Suci dan blok Nona di Jawa Timur, blok di Jambi Barat dan Timur, blok di Sumatera Utara, dan blok di Sumatera Selatan.Ditambahkan Tri Siwindono, pola kerja sama yang akan diterapkan dalam pengelolaan 10 blok migas ini adalah dengan pola kerja sama operasi (KSO).Pertamina, lanjutnya, akan membayar ke pihak ketiga itu dari bagian BUMN migas yang didapat dari pemerintah. "Kalau kita mendapat 40 persen dari negara, maka sebagian dari 40 persen itu akan kita berikan ke mereka untuk mengerjakan lapangan," ujarnya.Namun Siwindono mengatakan, total bagian yang diterima asing tidak lebih dari 15 persen sesuai ketentuan yang tertuang dalam kontrak kerja sama (KKS). Sementara sisanya, kata dia, merupakan bagian Pertamina."Lapangan ini tidak kita tawarkan ke major company, karena produksinya kecil. Kami ingin major company masuk ke blok eksplorasi yang risiko dan potensinya tinggi," katanya.
(qom/)











































