Kebutuhan Lokal Melonjak, Ekspor Alat Berat Stagnan
Jumat, 25 Nov 2005 11:38 WIB
Jakarta -
Ekspor alat berat dari Indonesia dalam lima tahun ke depan diprediksi stagnan. Produsen akan memfokuskan pasar dalam negeri karena kebutuhan alat berat semakin melonjak.Stagnannya ekspor alat berat ini juga karena mekanisme ekspor melalui principal yang ada di luar negeri, telah dilakukan pembagian wilayah dan kuota pasar yang sudah jelas.Demikian diungkapkan oleh Sekjen Departemen Perindustrian Agus Tjahayana dalam acara peresmian Foundry Plant II atau Pabrik Pengecoran Baja senilai Rp 155 miliar, milik PT Komatsu Indonesia Tbk, Jalan Raya Cakung, Cilincing, Jakarta, Jumat (25/11/2005).Prospek permintaan alat berat dalam negeri, ungkap Agus, akan terus meningkat sejalan dengan program infrastruktur pemerintah, khususnya sektor konstruksi dan pertambangan."Ini didasari oleh pesatnya pertumbuhan industri pertambangan dan logging, serta mulai dilaksanakannya proyek industri infrastruktur, seperti jalan, pelabuhan dan sektor pertambangan," jelas Agus.Kebutuhan alat berat dalam negeri pada tahun 2005 diprediksi naik 48 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk tahun 2006 diproyeksikan naik 35 persen.Kondisi inilah yang membuat produsen lebih memfokuskan penjualan di pasar domestik ketimbang ekspor.Industri alat berat pada tahun 2005 juga telah memiliki kandungan lokal hingga 50 persen, naik dibanding tahun 2004 yang hanya sebesar 45 persen, karena meningkatnya kemampuan industri komponen dalam negeri.Hal Ini, menurut Agus, akan berdampak pada kemampuan suplai dari industri alat berat yang pada tahun 2005 mencapai 60 persen dari kebutuhan dalam negeri, dan secara bertahap diperkirakan meningkat menjadi 80 persen pada tahun 2009.Saat ini di Indonesia terdapat lima produsen alat berat yang telah mampu memproduksi berbagai jenis spesifikasi alat berat, seperti eskavator, buldozer, wheel loader, forklift, motor grader, dumetruck dan ground support equipment dengan kapasitas nasional terpasang mencapai 3.538 unit per tahun. Nilai investasi tersebut mencapai US$ 74,77 juta pada tahun 2004, naik dibanding tahun sebelumnya sebesar US$ 67,77 juta, serta mampu menyerap tenaga kerja 3.600 orang dengan volume ekspor US$ 6,9 juta.Sedangkan 16 industri komponen dan sub komponen alat berat yang menjadi pendukung industri ini, memiliki kapasitas terpasang 50 ribu ton. Nilai investasinya mencapai US$ 51 juta dan menyerap tenaga kerja 3.000 orang dengan volume ekspor US$ 92 juta.Dalam tiga tahun terakhir, menurut Agus, terjadi perkembangan produksi alat berat yang pesat. Pada tahun 2003, produksi hanya sebesar 1.684 unit, kemudian naik menjadi 2.830 unit atau 68 persen pada tahun 2004. Sedangkan pada tahun 2005 diperkirakan akan naik 73,5 persen atau mencapai 4.910 unit.
(ir/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































