Pertamina Teken Kontrak US$ 65 M, Terbesar Sepanjang Sejarah

Pertamina Teken Kontrak US$ 65 M, Terbesar Sepanjang Sejarah

- detikFinance
Jumat, 25 Nov 2005 14:44 WIB
Jakarta - Pertamina mendapat kontrak kerjasama sebesar US$ 65 miliar, yang merupakan nilai kontrak terbesar sepanjang berdirinya BUMN itu. Kontrak dengan perusahaan asing asal Kanada, Accelon Energy System, itu untuk membuat solar sintetis."Ini adalah kontrak terbesar yang didapat Pertamina selama 48 tahun berdiri," kata Dirut Pertamina Widya Purnama dalam jumpa pers di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Perwira, Jakarta, Jumat (25/11/2005).Perusahaan asal Kanada tersebut akan membangun pabrik solar sintetis (Sintetic Diesel Facility) di Kalimantan Timur."Nantinya Pertamina akan menjadi off taker dan kita sama sekali tidak mengeluarkan uang sepeser pun, semuanya dari perusahaan asing tersebut," ujar Widya.Pembangunan pabrik ini, ungkap dia, sangat bermanfaat bagi Indonesia, karena selain memasukkan devisa juga menjaga keamanan pasokan (security of supplay) BBM khususnya solar."Ini menjawab tantangan dari Presiden untuk mencari energi alternatif, solar sintetis ini akan diproduksi dengan bahan baku batu bara dengan kategori low calorie," tuturnya.Batu bara yang akan digunakan ini adalah jenis batu bara yang tidak laku di pasar yang jumlahnya sangat melimpah. Dalam perjanjian kontrak ini, Pertamina akan mendapat hak beli produk solar tersebut, karena Accelon tidak boleh menjual ke pihak lain. Sedangkan solar sintetis yang dibeli Pertamina ini dapat dijual untuk kebutuhan lokal atau ekspor.Fasilitas pembuatan solar sintetis ini akan mulai beroperasi pada pertengahan 2008 dengan menghasilkan solar jenis Euro 4, yang lebih baik dari solar saat ini."Pertamina Dex (high speed diesel) kualitasnya adalah Euro 2 dan solar adalah Euro 1, sedangkan produk solar sintetis ini mempunyai kualitas hijau yang artinya jenis solar paling mahal dan tertinggi di dunia," papar Widya. Rencananya jumlah solar sintetis yang akan diproduksi sebanyak 28 juta barel dengan kebutuhan batu bara low calorie sebanyak 10 juta metrik ton. Solar jenis sintetis ini sudah banyak dijual di Jepang dan Perancis. Adanya kerja sama ini, ungkap Widya, sangat menguntungkan Pertamina karena perusahaan tidak perlu lagi impor yang membutuhkan biaya angkut dan dana lainnya. Mengenai harga jualnya, Pertamina akan membeli BBM tersebut dengan harga pasar."Harga jualnya tidak jauh berbeda dengan solar saat ini dengan kualitas yang hijau," tandas Widya. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads