Tarif Listrik Indonesia Termahal Kedua di ASEAN
Sabtu, 26 Nov 2005 13:37 WIB
Jakarta -
Tarif Dasar Listrik (TDL) Indonesia tercatat sebagai tarif termahal kedua di wilayah negara ASEAN setelah Filipina. Wah!Karena itu, rencana kenaikan tarif listrik pada awal tahun depan akan mengancam makin banyaknya penduduk yang tidak bisa menjangkau fasilitas ini."Tarif listrik Indonesia menjadi nomor dua tertinggi setelah Filipina," kata Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo dalan jumpa pers di Kantor YLKI, Jalan Pancoran Barat, Jakarta, Sabtu (26/11/2005). Saat ini harga listrik Indonesia sebesar 6,5 sen dolar AS per kwh dengan pemakaian rata-rata masih di bawah 5.000 kwh per bulan. Sedangkan tarif di Filipina mencapai 7,3 sen per kwh. Sementara negara ASEAN lainnya seperti Malaysia 6,2 sen per kwh, Thailand 6,0 sen per kwh dan Vietnam 5,2 sen per kwh.Dengan harga listrik saat ini sebesar 6,5 sen dolar AS per kwh saja masih ada sekitar 100 juta penduduk Indonesia yang belum bisa menikmati aliran listrik.Pemerataan pemakaian listrik semakin jauh jika Perusahaan Listrik Negara (PLN) kembali menaikkan harga. "Seharusnya kemampuan membayar konsumen listrik sangat penting untuk dijadikan basis dalam penerapan tarif dasar listrik dan pemerintah tidak dapat hanya memperhatikan kemampuan dan kondisi PLN saja," kata Sudaryatmo.Kenaikan TDL, menurut Sudaryatmo, justru akan merugikan PLN, karena masyarakat akan menurunkan pemakaian listriknya dan makin maraknya pencurian listrik.Masalah pencurian listrik ini, ungkap Sudaryatmo, harus menjadi perhatian penting PLN. Pasalnya pencurian listrik, terutama di kalangan industri dan pelaku usaha, memberikan kontribusi signifikan terhadap tingginya kerugian PLN."Sebagai contoh, dalam skala kecil saja menurut keterangan PLN Distibusi Jaya dan Polda Metro Jaya, 70 persen reklame di Jakarta melakukan pencurian listrik," katanya.YLKI juga menuntut agar PLN segera memperbaiki kualitas tingkat mutu pelayanan. Buruknya kualitas pelayanan PLN terlihat dari tingginya data pengaduan masalah listrik yang selalu menduduki rangking tiga besar sejak 1997.
(ir/)










































