Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 27 Jan 2020 15:40 WIB

Kelola Lahan Pertanian Diarahkan Pakai Koperasi, Apa Untungnya?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki (Foto: Mardi Rahmat/20 detik)
Jakarta -

Pemerintah bakal menggenjot kontribusi koperasi di sektor pertanian. Dengan koperasi, petani bisa berkonsolidasi untuk menggarap sawah dengan luas lahan yang besar sehingga produksinya lebih banyak dengan biaya yang lebih efisien.

"Kami mengembangkan model konsolidasi lahan, konsolidasi petani yang perorangan tadi berhimpun dalam 1 koperasi untuk menanam komoditi tertentu dalam skala bisnis," kata kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki usai menghadiri Rakernas Pembangunan Pertanian Tahun 2020, di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (27/1/2020).

Wujud kehadiran koperasi di sektor pertanian itu dituangkan dalam MoU dengan Kementerian Pertanian terkait pengembangan korporasi petani berbasis koperasi falam rangka industrialisasi pertanian.

"Sehingga dengan begitu maka dipentingkan memang kerjasama antarkementerian supaya kita bisa mengkonsolidasi seluruh resources yang ada di pertanian," papar Teten.

Menurutnya, saat ini petani di Indonesia terpecah. Pengelolaan sawah dilakukan per petak sehingga tidak efisien baik dalam biaya produksi, maupun hasilnya.

"Di Indonesia rata-rata pertanian itu dikelola secara perorangan dan dengan lahan yang sangat sempit sehingga muncul isunya tidak efisien, kontinuitas kebersinambungan produk, kesejahteraan petani, dan sebagainya," ujar Teten.

Jika terealisasi, menurut Teten, ada empat pekerjaan rumah yang akan dilakukan bersama. Pertama, memperluas inisiatif dari saat ini 100 hektare (Ha) menjadi 1.000 Ha sawah. Kedua, memperkuat koperasi primer petani di Demak, Sragen, Grobogan dan kabupaten/kota lain di Jawa Tengah yang ingin diintegrasikan. Ketiga, pembesaran RMU. (Rice Milling Unit). Keempat, skema pembiayaan.

Teten mengatakan, skema koperasi dalam pertanian ini sudah diterapkan di beberapa negara seperti Malaysia dengan Felda dan Felcra-nya. Atau, koperasi pertanian di Belanda yang berkembang pesat.

"Intinya, konsolidasi lahan yang kecil-kecil harus dilakukan, begitu juga konsolidasi komoditi melalui clustering pertanian dan perkebunan harus dilakukan," tandas dia.



Simak Video "Satgas Pangan Gabungan Ungkap Impor 15 Ton Kuning Telur Ilegal"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com