Resmi Cabut dari Uni Eropa, Inggris Buka Lembaran Baru

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 01 Feb 2020 10:40 WIB
Bagaimana bisa pemerintah Inggris membekukan parlemen yang dipilih oleh rakyat, sebelum Brexit?
Foto: BBC World/ Inggris Buka Lembaran Baru
Jakarta -

Mulai 1 Februari 2020 ini, Inggris secara resmi telah meninggalkan Uni Eropa (UE) setelah lebih dari tiga tahun referendum yang membuat negara itu terpecah belah.

Dengan resminya Brexit (Britain Exit) ini pun mengakhiri pertikaian politik yang telah bergulir selama bertahun-tahun, bahkan kadang hingga melumpuhkan kota Westminster. Peristiwa ini mengakhiri dualisme kepemimpinan meninggalkan parlemen United Kingdom (UK).

Dilansir dari CNN, Sabtu (1/2/2020), UK adalah negara pertama yang menarik diri dari UE dalam sejarah. Hal ini juga menutup bagian selama 47 tahun menjadi anggota negara UE.

Dalam Pesta Brexit di Parliament Square, kota Westminster, Perdana Menteri Britania Raya Boris Johnson menyerukan pesan kemerdekaan 1 jam sebelum kerajaan tersebut resmi ke luar dari anggota UE. Johnson mengatakan keputusan bulat Brexit ini sebagai lembar baru dalam pidato kenegaraannya.

Johnson berjanji setelah negara ini resmi meninggalkan UE, maka akan lahir perubahan secara nasional, dan itu nyata. Ia bahkan menjanjikan seluruh warga negaranya keadilan di antara empat kerajaan itu.

Menjelang pergantian hari, Pesta Brexit juga dimeriahkan dengan momen hitung mundur dari jam raksasa di 10 Downing Street. Sayangnya, momen bersejarah itu tak dirayakan di London dengan Big Ben karena sedang diperbaiki itu.

Meski telah keluar dari UE, Britania Raya masih harus menunggu 11 bulan ke depan untuk transisi hingga akhirnya UK sepenuhnya bebas dari blok UE. Masih ada negosiasi perdagangan yang berkepanjangan dengan UE.

"Saat inilah di mana fajar menyingsing dan tirai tersibak untuk babak baru dalam drama nasional terbesar kita," kata Johnson.

Ia menuturkan, kekuatan baru atau kedaulatan yang direbut kembali ini adalah perubahan besar bagi mereka.

"Baik itu dengan mengendalikan imigrasi, atau menciptakan pelabuhan yang bebas, atau membebaskan industri perikanan kami, juga melakukan transaksi perdagangan bebas. Atau hanya membuat Undang-undang (UU) dan aturan kami untuk kepentingan rakyat negara ini," paparnya.

"Dan tentu saja saya pikir itu adalah hal yang benar dan sehat serta demokratis untuk dilakukan. Ini semua adalah kekuatan dan langkah yang terpuji. UE telah berkembang lebih dari 50 tahun ke arah yang tidak lagi sesuai dengan negara ini. Dan itu adalah yang dibenarkan oleh orang-orang yang menyuarakan ini," sambung dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Bagaimana Nasib Inggris Pascabrexit?"
[Gambas:Video 20detik]