Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 10 Feb 2020 14:06 WIB

Cerita Bahlil Soal Raja Kecil dan Investasi di Daerah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Foto: Mohammad Wildan/20detik
Jakarta -

Masalah investasi dan perizinan yang ada di Indonesia biasa tidak kompaknya antara pemerintah pusat dan daerah. Misalnya calon investor sudah mendapatkan izin dari pusat, namun terkendala aturan-aturan di daerah.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan untuk mengatasi hal tersebut ia memiliki strategi komunikasi dengan para pimpinan di daerah.

"Saya bersyukur sebelum jadi kepala BKPM, saya dan aktif pernah jadi ketum HIPMI. Di organisasi itu saya bisa kenal Bupati, Gubernur karena sebelumnya saya keliling Indonesia dengan Hipmi, karena saya sudah kenal dengan mereka, karena saya orang daerah, chemistry-nya masuk, dan di situ komunikasi kebatinan," kata Bahlil dalam blak-blakan detikcom, di kantornya, akhir pekan lalu.

Dia mengungkapkan, karena dirinya merupakan orang daerah maka ia bisa lebih memahami apa yang mereka inginkan.

"Alhamdulillah komunikasi saya dengan mereka itu baik, dan komunikasinya ini persahabatan, kekeluargaan itu jauh lebih cair untuk menyelesaikan masalah daripada komunikasi formal. Itu kuliah di Harvard tidak ada teori itu, mau kuliah doktor juga tidak ada teori itu, itu ilmu lapangan, ilmu pergaulan," jelas dia.

Menurut dia, pengalamannya sebagai ketua umum HIPMI membuatnya lebih mapan dalam berinteraksi dengan pimpinan daerah. "Saya kan dulu pelaku usaha juga, berproses dari bawah dan saya berinteraksi lewat HIPMI jadi saya lebih tune, kan Allah sudah bilang, setiap ada masalah pasti ada solusinya dan selalu ada saja selama kita berpikiran positif dan tidak ada kepentingan pribadi," jelas dia.

Dia menambahkan, sebagai kepala BKPM dalam menyelesaikan investasi tak hanya cukup dengan pendekatan regulasi. Namun juga harus memiliki pendekatan lapangan. Pasalnya regulasi tak akan mampu menyelesaikan masalah-masalah yang muncul.

Hal ini karena banyak 'hantu' di lapangan yang bisa menghambat investasi. "Problem paling besar ya ini, apalagi hantunya hantu berdasi. Kalau regulasinya bagus, tapi kalau waktunya tidak kita mainkan, ya tidak akan selesai itu barang," ujarnya.


Kemudian, Bahlil mencontohkan beberapa waktu lalu ada investasi petrochemical dari Lotte di wilayah Cilegon senilai US$ 4,2 miliar dan sudah 3 tahun tidak selesai. Lalu investasi di Sulawesi Tenggara senilai US$ 2,9 miliar selama 4 tahun tidak selesai.

Dengan timnya saat ini, Bahlil berhasil menyelesaikan dalam waktu tidak lebih dari 2 bulan. Menurut Bahlil, BKPM tidak hanya menyelesaikan masalah investasi yang nilainya besar. Belum lama ini, BKPM menyelesaikan investasi mangkrak di Jogja senilai Rp 1 miliar.

Dia mengatakan bagi siapapun yang rencana investasinya terhambat bisa langsung melaporkan ke BKPM untuk dilakukan kajian dan penyelesaian masalah. "Ka tidak mau ada pandang bulu bahwa ini kita untuk mendahulukan negara, ah nggak ada. Semuanya kita samakan mulai dari Arab Saudi, mau dari Eropa, China, Korea, Jepang, Amerika Serikat mau dari mana selama mereka memenuhi aturan yang berlaku di negara kita," imbuh dia.



Simak Video "Blak-blakan Kepala BKPM: Hantu Berdasi Hambat Investasi"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com