Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 11 Feb 2020 12:58 WIB

Ekonomi RI Diramal Cuma Tumbuh 4%-an Imbas Corona

Vadhia Lidyana - detikFinance
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Foto: Getty Images
Jakarta -

Pengamat Ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 hanya tembus 4,9%. Angka tersebut ia peroleh dengan melihat dampak penyebaran virus corona yang berawal di China, hingga ke 27 negara lainnya.

"Kalau kemudian virus ini berlangsung secara lama, kita prediksikan ini akan mengarah semua pada potensi pertumbuhan 4,9%. Kemarin kan BPS merilis pertumbuhan 2019 kita 5,02%. Jika di 2020 ada beberapa kejadian termasuk corona ini, paling tidak bisa terkoreksi 0,1% sampai 4,9%," kata Faisal dalam acara diseminasi hasil analisis Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan outlook ekonomi dan perdagangan 2020 di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Ia kemudian membandingkan penyebaran virus corona dengan SARS yang terjadi pada tahun 2002-2004 lalu. Meski dari jumlah kematian virus corona ini lebih rendah dibandingkan SARS, namun dari jumlah korban terpapar lebih banyak dalam kurun waktu satu bulan lebih, hingga saat ini sudah sekitar 41 ribu orang yang terpapar.

"SARS satu tahun itu jumlah yg terpapar 8.096 dan sekarang novell corona itu dua hari yang lalu saya catat masih 37,5 ribu tapi sekarang sudah 41 ribu lebih, sangat cepat sekali. Meskipun tingkat kematian jumlah yg terpapar itu lebih rendah dibandingkan dengan SARS," ujar Faisal.

Ia menjelaskan, jika melihat dampaknya pada perekonomian, maka jumlah korban yang terpapar dan kecepatan penyebaran virus corona inilah yang punya pengaruh signifikan, dibandingkan jumlah kematian.

"Tapi kalau kita bicara dampak pada ekonomi, bukan rate kematiannya yang penting, tapi tingkat kecepatannya kepada banyak negara karena itu ada kekhawatiran yang mengganggu aktivitas ekonomi," ungkapnya.

Selain itu, penyebaran virus corona ini paling besar di Provinsi Hubei, China. Faisal mengatakan, pertumbuhan ekonomi Hubei pada tahun 2019 sebesar 7,3%, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional China yakni 6%. Sehingga, hal ini akan memberikan dampak besar pada ekonomi China, juga ke Indonesia.

"Hubei itu tumbuh 7,3%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi China ketika dia mengalami freezing dan aktivitas ekonomi berhenti. Ini pasti sangat berdampak besar terhadap perekonomian China dan juga beberapa daerah yang lain, termasuk di antaranya Starbucks itu 50% tutup di China, Apple tutup semua, Disneyland di Shanghai itu berhenti beroperasi," pungkas dia.



Simak Video "Duh! 512 Tahanan di China Terinfeksi Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com