BI: Kebijakan Moneter Tahun 2006 Masih Tetap Ketat
Rabu, 30 Nov 2005 15:51 WIB
Jakarta - Bank Indonesia pada tahun 2006 akan tetap mengambil kebijakan moneter ketat, seiring masih tingginya angka inflasi."Kebijakan moneter yang ketat masih akan diberlakukan. Kenaikan BI rate hingga 12,25 persen itu untuk menjaga inflasi," ujar Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dalam acara seminar di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (30/11/2005).BI melihat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2006 akan menghadapi tiga tantangan yakni pertama, risiko terhadap ketidakstabilan makro yang ditandai dengan masih adanya efek kenaikan harga BBM atau second round effect.Kedua, pembiayaan di sektor ekonomi karena meningkatnya suku bunga. "Kenaikan suku bunga kredit akan mempengaruhi NPL perbankan," ujar Burhanuddin. Ketiga, dari sisi eksternal yakni pengetatan ekonomi di AS. Meski neraca pembayaran surplus, tetapi masih ada risiko karena adanya kebijakan yang ketat tersebut.Untuk itu ekspor non-migas diharapkan dapat ditingkatkan agar dapat menekan inflasi hingga 7-8 persen pada tahun depan. "Ini didukung oleh penguatan nilai tukar dan kenaikan asumsi listrik," tambahnya.Ditambahkan Burhanuddin, untuk pertumbuhan ekonomi pada tahun 2006 akan bertumpu pada konsumsi dan investasi. Sisi konsumsi berasal dari banyaknya pengeluaran pemerintah dan meningkatnya daya beli masyarakat sebagai akibat kenaikan upah. Sisi investasi adalah dari infrastruktur dan proyek migas yang mulai berjalan. BI memperkirakan perlambatan ekonomi hanya terjadi hingga triwulan II-2006, dan pada triwulan III, pertumbuhan ekonomi akan mengalami peningkatan.Menurut Burhanuddin, pertumbuhan ekonomi tahun 2006 diperkirakan mencepai 5,5-6 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dari target pemerintah 6,2 persen. Soal inflasi pada tahun 2005 memang akan berada di atas 17 persen mengingat pada Oktober inflasi mencapai 16 persen. Pada November dan Desember akan menyebabkan inflasi pada tahun 2005 menjadi 17 persen.
(qom/)










































