Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 13 Feb 2020 10:31 WIB

Target Ekspor Naik 250% di 2024, KKP Genjot Produktivitas Udang

Angga Laraspati - detikFinance
Kementerian Kelautan dan Perikanan Kawasan budidaya udang berkelanjutan di Pasangkayu, Mamuju Utara. Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan
Jakarta -

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengatakan Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan adanya peningkatan ekspor udang sebesar 250% hingga tahun 2024. Oleh karena itu, pihaknya telah menyiapkan strategi untuk mendongkrak produktivitas budidaya udang di berbagai daerah.

Menurutnya, salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas udang adalah dengan mengembangkan percontohan model tambak budidaya udang berkelanjutan.

"Model pengembangan kawasan tambak budidaya udang berkelanjutan telah nyata mampu menggenjot produktivitas udang secara signifikan. Jadi, sebenarnya dengan model teknologi seperti ini, target peningkatan 250% dalam lima tahun ke depan yang ditetapkan Presiden Jokowi sangat realistis", ungkap Slamet dalam keterangan tertulis, Kamis (13/2/2020).

Saat meninjau kawasan budidaya udang berkelanjutan di Desa Randomayang, Kabupaten Pasangkayu-Mamuju Utara Selasa (11/2/2020) itu, Slamet menilai model kawasan dinilai efektif untuk menjamin sistem produksi bisa berjalan terintegrasi. Mulai dari penataan tata letak, penyediaan benih bermutu, manajemen pakan, dan pengendalian penyakit dan lingkungannya. Menurutnya, melalui model ini produktivitas bisa digenjot hingga 5-10 ton per hektare.

"Tahun 2024 kita menargetkan ekspor naik 250%, atau ada penambahan produksi udang nasional setidaknya mencapai 578 ribu ton. Setahun ini kita akan petakan kebutuhan lahan, infrastruktur dan sarana prasarana. Nanti baru kita lakukan realisasi, tentu dengan menggandeng seluruh stakeholders termasuk menarik investor masuk,' imbuh Slamet.

Lebih lanjut, Slamet mengungkapkan perusahaan swasta nasional pun sudah mulai tertarik dengan bisnis budidaya udang nasional setelah sebelumnya mereka berhasil mengadopsi model pendekatan kawasan budidaya udang berkelanjutan dengan hasil yang optimal. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) gencar melakukan diseminasi atau percontohan model tersebut di berbagai daerah potensial salah satunya di Pasangkayu-Mamuju Utara.

Slamet juga menegaskan tahun ini komoditas udang masih menjadi fokus pengembangan sebagai andalan ekspor perikanan nasional. Tahun 2018 tercatat share ekspor udang Indonesia mencapai hampir 40% dari total nilai ekspor total produk perikanan nasional atau mencapai US$1,3 miliar . Dengan menggenjot produktivitas budidaya diharapkan nilai produksi dapat naik hingga mencapai US$ 3,25 miliar.

"Saya senang, kita berhasil buktikan bahwa model kawasan budidaya berkelanjutan ini menghasilkan produksi optimal dan ini telah memicu para investor masuk dan mengadopsi model sejenis. Dengan keterlibatan investor, tentu menambah optimisme, ke depan industri budidaya udang nasional akan semakin maju," tuturnya.

Senada dengan Slamet, Presiden Direktur PT. Manakara Sakti Abadi, Rudy Hartanto Wibowo, salah satu investor udang di Pasangkayu, menyatakan target 250% ekspor udang adalah realistis. Ia meyakini target tersebut pasti tercapai. Menurutnya, kuncinya adalah keseriusan semua stakeholders terkait. Dirinya juga melihat prospek industri budidaya udang nasional sangat menggiurkan dan bisa jadi andalan devisa.

Dirinya mengatakan dari keseluruhan volume produksi udang nasional, hanya sekitar 18,35% supply share yang merambah pasar ekspor yakni ke Jepang, USA, Eropa dan China. Jadi kesimpulannya ada peluang besar untuk meningkatkan supply share ekspor udang nasional.

"Saat ini produsen udang swasta nasional terus berupaya meningkatkan produksi untuk mencapai target tersebut. Intinya kami ingin ikut berperan dalam membantu terwujudnya program Pemerintah," tegas Rudy

"Para pemilik modal saya rasa untuk mulai tidak ragu menginvestasikan dana dalam bisnis udang ini. Saya merasa, bisnisnya saat ini menjanjikan karena teknologi tersedia, SDM ada, dan infrastruktur mulai dibenahi," tambahnya.

Sebagai informasi model kawasan budidaya udang berkelanjutan yang dikembangkan di Pasangkayu seluas 45 hektare, dengan perkiraan produksi udang yang dihasilkan per siklus mencapai 12-14 ton per kolam. Luas kawasan ini akan terus berkembang mengingat mulai banyaknya investor yang masuk di bisnis ini.

Model kawasan tambak budidaya udang berkelanjutan merupakan model percontohan yang dikenalkan Ditjen Perikanan Budidaya KKP dengan mendorong pengelolaan yang terintegrasi dan ramah lingkungan. Model ini juga dinilai efektif untuk mengendalikan penyebaran hama dan penyakit udang karena berada dalam satu manajemen dan biosecurity yang ketat.



Simak Video "Berburu Udang di Tambak Desa Wringin Banyuwangi"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com