RI Akan Minta 4 Produk Tidak Diperdagangkan Bebas di WTO
Jumat, 02 Des 2005 18:44 WIB
Jakarta -
Indonesia akan mempertahankan empat komoditas sektor pertanian untuk tidak dimasukkan dalam daftar komoditas yang diperdagangkan secara bebas dalam konferensi tingkat menteri keempat WTO yang akan digelar 13-18 Desember 2005 mendatang di Hong Kong. Empat komoditas itu adalah beras, jagung, kedelai dan gula yang masuk dalam kategori produk khusus."Bagaimana yang namanya produk khusus tidak ikut yang namanya proses liberalisasi. Kalaupun ikut dalam penurunan tarif atau pembukaan pasar yang diberlakukan itu minim sekali, apakah akan lebih dari 4 komoditi, itu masih dalam proses negosiasi," kata Mendag Mari Elka PangestruIa menyampaikan hal tersebut dalam jumpa pers usai pertemuan tingkat menteri dalam menghadapi konferensi keenam WTO di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (2/12/2005).Permintaan ini merupakan permintaan dari 33 negara berkembang G33, yang saat dipimpin oleh Indonesia. Kriteria produk spesial yang dimaksud adalah ketahanan pangan, penurunan kemiskinan dan pengembangan daerah pedesaan. "Jadi dengan kriteria itu akan ada sejumlah produk pertanian yang tidak ikut dalam proses liberalisasi," kata Mari.Negosiasi yang akan dimainkan Indonesia dalam forum WTO tersebut tentunya untuk mengedepankan kepentingan Indonesia sebagai negara berkembang. "Tapi kami tidak bisa membicarakan secara detail posisi Indonesia. Yang perlu digarisbawahi adalah adanya kesepakatan antar sesama menteri perekonomian untuk mengedepankan kepentingan Indonesia," ujar Mari.Menlu Hasan Widajuda mengatakan, salah satu isu yang akan alot dibicarakan dalam pertemuan WTO mendatang adalah mengenai pengurangan subsidi pertanian dari negara Uni Eropa. Bila produk pertanian dari Uni Eropa masih disubsidi, maka negara-negara berkembang akan mengalami kesulitan dalam perdagangan."Subsidi pertanian itu masih kontroversial. Bayangkan misalnya sapi di Uni Eropa tiap hari disubsidi 2 dolar. Itu sama dengan biaya hidup keluarga miskin di negara berkembang," ungkap Mari.Tujuan pertemuan WTO adalah untuk membahas isu-isu yang dimandatkan oleh agenda pembangunan DOHA (DOHA development Agenda/DDA) pada tahun 2001. DDA memuat isu-isu pembangunan yang menjadi kepentingan negara-negara berkembang dan negara berkembang paling terbelakang.
(qom/)










































