Jawab Isu 'Gundik' di Garuda, Yenny Wahid: Tak Ada Special Treatment

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 28 Feb 2020 20:00 WIB
Yenny Wahid yang bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (lahir di Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974. Yenny Wahid adalah anak kedua dari pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah. Ia mempunyai seorang kakak, Alisa Wahid dan dua orang adik, Anita Wahid dan Inayah Wahid.
Foto: Ari Saputra: Yenny Wahid, Komisaris Garuda Indonesia
Jakarta -

Komisaris Independen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Yenny Wahid buka suara terkait isu 'gundik' yang sempat menjadi sorotan publik. Yenny menolak istilah tersebut sebab dianggap merugikan citra pramugari Garuda yang selama ini sudah bekerja secara profesional.

"Saya nggak mau pakai istilah itu (gundik), itu melecehkan sekali pramugari. Satu-dua kasus terjadi tapi yang kena semua, kasihan ribuan awak kabin kita yang profesional, perempuan-perempuan terhormat, perempuan-perempuan yang punya martabat tapi mereka jadi korban pelecehan penumpang karena dianggap image sama," ujarnya di Kantor Garuda Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (27/2/2020).

Dia meyakinkan bahwa kasus apapun yang terjadi di tubuh perusahaan akan disikapi secara tegas oleh direksi. Namun, ia kembali mengimbau semua pihak agar tak menyamakan semua awak kabin Garuda dengan pelaku 'gundik' yang sempat ramai diperbincangkan publik tersebut.


"Bahwa satu-dua kasus itu disikapi oleh perusahaan dan terus kita perbaiki tapi jangan samakan awak kabin Garuda dalam satu kategori yang sama," terangnya.

Tak ada awak kabin diistimewakan

Untuk itu, ke depan tak ada lagi perlakuan khusus kepada awak kabin yang memiliki kedekatan dengan atasan. Sebagaimana yang sempat terjadi pada salah seorang 'gundik' yang dengan Eks Dirut Garuda.

"Intinya para awak kabin ada permasalahan sama-sama tahu. Ke depan perlu membangun sistem lebih transparan bahwa ke depan aturan perusahaan betul-betul diikuti tidak ada lagi keluhan-keluhan bahwa ada special treatment karena kedekatan-kedekatan pribadi. Semua didasarkan standar yang jelas, kriteria yang jelas bahwa orang naik pangkat karena memang punya kompetensi ke sana," paparnya.

Lebih lanjut, Yenny bilang, siapapun awak kabin itu, dekat dengan siapapun dia, bila melanggar norma dan etika yang dilanggar maka akan dikenakan sanksi.

"Kalau ada masukan berikan kepada Garuda kalau dianggap menyalahi norma dan etika kami akan berikan sanksi, jelas. Karena memang ada pasal aturan perusahaan semua karyawan diberikan contoh yang baik apalagi mereka dalam posisi front line," pungkasnya.



Simak Video "Melihat Penampakan Pesawat Garuda Indonesia Kenakan Masker"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)