Menaker Beberkan 3 Tantangan Transformasi Ketenagakerjaan di Era 4.0

Nurcholis Maarif - detikFinance
Jumat, 28 Feb 2020 19:35 WIB
Kemnaker
Foto: Kemnaker
Jakarta -

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyebut ada tiga tantangan transformasi ketenagakerjaan sebagai dampak revolusi industri 4.0. Pertama, skills transformation atau transformasi keterampilan, kedua, job transformation atau transformasi pekerjaan dan ketiga, society transformation atau transformasi sosial.

"Untuk menghadapi tiga tantangan tersebut, maka diperlukan inovasi dalam penyiapan kompetensi tenaga kerja, regulasi ketenagakerjaan yang fleksibel dan jaminan sosial terhadap peningkatan kompetensi, dan jaminan sosial terhadap pendapatan masyarakat," kata Ida dalam keterangan yang diterima detikcom, Jumat (28/2/2020).

Hal itu dikatakannya saat menjadi keynote speech dalam 'Conference 2045: Education to Ignite The Creative Industry' di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Menurut Ida, ketiga transformasi ketenagakerjaan itu banyak disebut peneliti akan berdampak dalam hal pekerjaan.

Pekerjaan yang berulang-ulang, rutin, dan kurang interpersonal akan hilang, sementara pekerjaan yang tidak berulang, tidak rutin, interpersonal akan bertahan. Sedangkan orang-orang dengan pekerjaan keterampilan tinggi akan lebih mungkin bertahan dan mendapatkan lebih banyak pendapatan.

"Kemudian orang-orang dengan pekerjaan keterampilan menengah lebih mungkin akan diubah oleh robot dan artificial intelligence. Sementara orang dengan pekerjaan dengan keterampilan rendah seperti membersihkan, memasak, dan lain-lain, masih akan bertahan, tetapi dengan upah yang sangat rendah," kata Ida.

Di era digital ini, kata Ida, lembaga pendidikan dan pelatihan (diklat) tidak hanya bertugas untuk mendidik dan melatih saja. Namun, lembaga diklat harus mampu menjadi wadah atau platform ekosistem peningkatan ekonomi di wilayahnya.

"Caranya, yakni dengan dengan berkolaborasi dengan berbagai jenis stakeholder. Mulai dari stakeholder pendanaan, kepakaran akademisi, peluang kerja, komunitas, dan pengalaman dari dunia usaha untuk menciptakan nilai tambah bagi ekonomi wilayahnya," katanya.

Ida mengungkapkan dalam konteks diklat vokasi, revolusi industri 4.0 memberi empat dampak, yakni pertama, perubahan tujuan pendidikan dan pelatihan vokasi yang awalnya adalah untuk mendapat pekerjaan (job matching) menjadi mempertahankan agar terus bekerja (lifelong employment security) dan kewirausahaan (entrepreneurship dan startup).

Kedua, perubahan kebutuhan keterampilan dari spesialisasi menjadi konvergensi (multi-skill) dikarenakan tuntutan kebutuhan produksi satu produk yang harus menggunakan teknologi multi-disiplin.

Ketiga, perubahan kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi yang semakin individualis dan berorientasi menciptakan produk. Keempat, perubahan sasaran diklat vokasi dari kaum muda (youth people) menjadi kaum rentan-terpinggirkan.

Pemerintah saat ini, lanjut Ida, berfokus kepada peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui diklat vokasi. Untuk jangka pendek, pelatihan vokasi akan berperan sentral karena dampaknya yang relatif lebih cepat bisa dirasakan oleh masyarakat dibanding pendidikan vokasi.

"Saya meyakini transformasi diklat vokasi di Indonesia menjadi kunci dalam penyiapan SDM Indonesia menghadapi era digital ini," ujar Ida.

Pada acara yang sama, Ida menyambut positif hadirnya vokasi kreatif (vokraf) karena bisa menjadi bagian penting dari industri kreatif. Selain dibutuhkan oleh anak-anak muda sekarang, vokraf juga menjadi penyeimbang ekonomi di Indonesia lebih baik lagi.

"Semua murid vokraf bisa menggunakan kesempatan dengan baik, dan teruslah maju. Jangan berhenti belajar. Bersama vokraf, saya yakin, kalian akan mendapat masa depan yang lebih baik, " kata Ida.

Menaker Beberkan 3 Tantangan Transformasi Ketenagakerjaan di Era 4.0


Simak Video "Ini Syarat Dapat Rp 600 Ribu dari Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)