Ekonomi Global Diproyeksi Melemah karena Corona, Ini Alasannya

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Minggu, 01 Mar 2020 17:00 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan, nilai ekspor Indonesia sampai saat ini kalah dengan negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2020 ini dari 3,1% menjadi 3%. Proyeksi ini turun merespons dampak jangka pendek dari penyebaran wabah virus corona alias covid-19.

"Sebelumnya 2020 itu kita proyeksikan 3,1% sedikit optimis, sekarang kita proyeksikan 3,0%. Mostly, karena proyeksi kami (pelemahan ekonomi China) terhadap Tiongkok dan beberapa negara Asia yang ikut terkena dampaknya," ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI IGP Wira Kusuma dalam Pelatihan Wartawan BI di The Trans Luxury Hotel, Bandung, Sabtu (29/2/2020).

Lalu, seberapa besar pengaruh pelemahan ekonomi China terhadap perekonomian global?

Menurut Wira, posisi China dalam pangsa perdagangan dunia adalah yang terbesar dibanding negara-negara lain. Porsinya pun mengalami peningkatan signifikan dari 4,8% pada tahun 2000-2018. Namun, setelah itu mengalami kenaikan drastis menjadi 12,3% di peringkat pertama dunia.

"Pangsa global trade China ke beberapa negara di 2000-2018, waktu itu pangsa global trade china itu hanya 4,8% saat ini sudah 12,3% jadi bagaimana perdagangan dunia itu sangat dipengaruhi oleh Tiongkok," paparnya.

Demikian pula dengan peranan China dalam Global Value Chain yang meningkat dengan jenis barang yang semakin kompleks.

"Kemudian kita lihat ini adalah peranan Tiongkok dalam global value chain. Di Country Complexity Index, bagaimana produk-produk Tiongkok itu begitu komplek ya mempengaruhi produk-produk yang ada di dunia. Semua diproduksi di China dari A sampai Z jadi peningkatannya pesat sekali di sini," tambahnya.

Lalu, dari segi konsumsi pun demikian. China tetap menjadi yang paling mendominasi konsumsi komoditas dunia. Utamanya konsumsi terhadap komoditas bijih besi atau iron ore dan tembaga atau copper.

"Kemudian kalau kita lihat di sini bagaimana Tiongkok itu mendominasi konsumsi komoditas dunia. Iron Ore begitu tinggi ya konsumsi China terhadap iron ore itu sekitar 60% dari konsumsi dunia. Bayangkan, kalau Tiongkok melemah bagaimana produsen-produsen iron ore itu dapat melemah. Kemudian juga copper dan lainya," ucapnya.

Berdasarkan survei terbaru oleh Kamar Dagang Amerika (AmCham) terhadap 109 perusahaan di Amerika yang dipaparkan Wira, terlihat bahwa 48% produksi global sudah terkena dampak covid-19 yang mana 51% di antaranya disebabkan oleh penurunan permintaan, 78% kekurangan staf, dan 30% terkendala logistik.

Ekonomi Global Diproyeksi Melemah karena Corona, Ini Alasannya



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)