Pemerintah Revisi Target Pertumbuhan Industri 2006
Senin, 05 Des 2005 12:18 WIB
Jakarta - Melambatnya pertumbuhan ekonomi yang diprediksi masih akan terjadi tahun 2006 yang ditandai dengan adanya revisi target pertumbuhan ekonomi dari 6,1 persen menjadi 6 persen, memaksa Departemen Perindustrian (Depperin) mengubah target pertumbuhan industri dari semula 7,7 persen menjadi 7,5 persen.Revisi ini dilakukan setelah melihat kondisi pertumbuhan sektor industri selama triwulan I, II dan III tahun 2005, yang dikaitkan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM per 1 Oktober lalu.Selain itu, revisi juga dilakukan dengan melihat perkembangan indikator makro yang ada, serta berbagai faktor eksternal dan internal.Demikian diungkapkan Menteri Perindustrian (Menperin) Andung A Nitimihardja saat raker dengan Komisi VI DPR, di Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (5/12/2005).Dengan pertumbuhan industri 7,5 persen, sektor industri atau manufaktur diharapkan bisa memberikan kontribusi sebesar 25,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP).Sebagian besar cabang industri mengalami revisi pertumbuhan yang lebih rendah, namun ada juga industri yang justru revisinya lebih tinggi atau stagnan.Cabang industri makanan, minuman dan tembakau target awal yang semula 3,4 persen direvisi lebih tinggi menjadi 4 persen.Tekstil, barang kulit dan alas kaki target awal 6,2 persen direvisi menjadi 5 persen. Barang kayu dan hasil hutan target awal 2,1 persen direvisi menjadi 2 persen.Untuk industri pupuk, kimia dan barang dari karet target awal 9,7 persen direvisi menjadi 9,2 persen. Logam dasar, besi dan baja target awal 5 persen direvisi menjadi 4 persen. Barang-barang lainnya target awal 10 persen direvisi menjadi 7,2 persen.Sedangkan industri yang tidak direvisi targetnya adalah kertas dan barang cetakan tetap 7,2 persen. Alat angkut, mesin dan peralatan tetap ditargetkan 12 persen. Serta semen dan bahan galian non-logam ditargetkan tetap 10,4 persen."Sehingga total target pertumbuhan industri dari yang semula 7,7 persen direvisi menjadi 7,5 persen," ujar Andung.Andung menjelaskan, untuk mencapai target tersebut, selain mempertahankan dan meningkatkan utilisasi dan kapasitas industri, juga diupayakan peningkatan investasi baru, serta peningkatan hasil ekspor lainnya."Peningkatan lapangan kerja juga akan menjadi fokus program kerja tahun 2006," tandas Andung.
(ir/)











































