Fahmi Akan Teruskan Program Andung

Fahmi Akan Teruskan Program Andung

- detikFinance
Selasa, 06 Des 2005 18:58 WIB
Jakarta - Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengaku tidak akan terlalu melakukan perubahan radikal terhadap program kerjanya nanti. Program kerja sebelumnya yang telah digariskan oleh pejabat sebelumnya Andung A Nitimihardja akan tetap diteruskan. Soalnya program itu telah mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)."Mau tidak mau yang dirancang oleh Pak Andung tentu mengacu pada RPJM. Kalau acuannya itu, saya tidak mungkin merombaknya. Paling yang saya lakukan karena berbagai perkembangan strategis," kata Fahmi Idris di Gedung Depnakertrans, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (6/12/2005).Makanya untuk rencana itu, pihaknya telah meminta kepada Sekjen Deperin untuk segera menyampaikan rencana strategis itu kepadanya. Begitu juga soal bahan-bahan informasi tentang strategi industri berikut perundang-undangnya dan kebijakan-kebijakan yang sudah diambil selama setahun yang lal.Nantinya, semua itu akan Fahmi diskusikan dengan Menteri Koordinator Perekonomian Boediono. "Tidak mungkin saya melangkah sendiri. Ini tim, saya harus berkoordinasi," ujarnya. Namun demikian pada tahun depan nanti program Deperin akan berkonsentrasi pada dua hal. Pertama akan diusahakan pemulihan untuk menunjukan komoditi unggulan yang akan memasuki pasar global. "Ini penting dilakukan untuk menggerakkan sektor riil," ujarnya.Komoditi unggulan itu diantaranya adalah komoditi sawit dengan derivatif produknya yang disebut dengan oleochemical industri. Selain sawit, produk kayu dan tekstil dan produk tekstil (TPT) juga bisa tetap jadi komoditi unggulan.Namun untuk produk TPT ini bahan baku impornya masih cukup besar yakni antara 60-80 persen dan ini menyebabkan produk ini sangat labil. Terlebih lagi terhadap jika berkaitan dengan kebijakan negara-negara pengekspor bahan baku tekstil yakni kapas, seperti AS dan Cina.Menyoal soal industri otomotif, nilai Fahmi, sudah sangat eksis. Namun begitu bentuknya perlu dikaji. "Kita perlu pertanyakan mengapa Jepang mengembangkan produknya di Thailand dan Malaysia," ujarnya . Padahal industri otomotif Jepang ini sudah berkembang sejak lama, yakni sejak tahun 1970-an. Ini panjang perjalanan. "Nanti saya akan berunding mereka. Saya mau tanya apa kurangnya Indonesia untuk dikembangkannya industri ini," ujarnya.Soal insentif, kata Fahmi, pihaknya akan tetap memberikan itu kepada investor. Insentif merupakan hal yang biasa dalam rangka menggerakan sektor riil dan diberlakukan di negara mana pun. Insentif merupakan dorongan dan keringanan sehingga masalah kebijakan yang memberatkan seperti kenaikan BBM dapat diminimalisir dampak negatifnya. (mar/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads