Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 12 Mar 2020 10:32 WIB

Corona Goyang Italia, Resesi Ekonomi di Depan Mata

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Italia kini menjadi salah satu negara yang miliki kasus tertinggi terkait penyebaran virus corona. Negara itu pun kini dikunci guna mencegah penyebaran COVID-19 Ilustrasi/Foto: Getty Images
Jakarta -

Italia menjadi salah satu negara di Eropa yang paling parah dihantam virus corona. Negara ekonomi terbesar ke-8 di dunia ini dinilai akan terjun ke dalam resesi ekonomi.

Italia telah memberlakukan pembatasan di ruang publik hingga 3 April mendatang. Mereka melakukan pembatasan perjalanan ke luar negeri pada 60 juta penduduk, larangan acara publik, penutupan sekolah, bioskop, museum, dan pusat kebugaran. Bahkan, Italia menetapkan batasan jam buka untuk restoran, bar, dan toko.

Dikutip dari CNN, Kamis (12/3/2020), jumlah persentase penduduk yang terjangkit virus corona di Italia terhadap jumlah total keseluruhan populasi, lebih besar dua kali lipat jumlahnya dibanding China. Jumlah kasus positif corona di Italia tercatat sebanyak 9 ribu orang, dengan jumlah kematian 463 orang.

Secara keseluruhan, langkah-langkah pembatasan ini mendorong ekonomi Italia melambat, terlebih lagi di kuartal IV 2019 ekonomi negeri pizza sudah mengalami kontraksi.

Ekonom senior Eropa di Capital Economics, Jack Allen-Reynolds menilai ekonomi Italia akan mengalami kontraksi tajam pada paruh pertama tahun ini. Bahkan, meskipun pembatasan dicabut pada akhir April, PDB Italia akan menurun sekitar 2%.

Dampaknya pun disebut makin besar apabila pembatasan publik diperpanjang. Di sisi lain, Italia juga disebut akan mengalami gangguan rantai pasokan bahan baku.

"Potensi gangguan rantai pasokan jika virus benar-benar lepas landas di Jerman, dan mitra perdagangan utama lainnya," kata Jack.

Ekonom Goldman Sachs pun memperkirakan pembatasan publik ini dapat memotong 1,5 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi Italia pada semester I tahun ini.

"Meskipun kebijakan fiskal akan mengatasi beberapa hambatan, wabah virus sangat mungkin mendorong Italia ke dalam resesi," dikutip dari laporan penelitiannya.

Sektor-sektor yang paling terkena dampak virus ini di Italia adalah sektor transportasi, seni dan hiburan, ritel, serta hotel, dan restoran. Padahal sektor tersebut, menyumbang sekitar 23% dari PDB Italia.

Dunia bisnis pun sudah merespons virus yang makin mewabah. Fiat Chrysler (FCAU) sudah mengumumkan bahwa mereka memangkas produksi dengan menutup sementara empat pabrik di Italia. Juru bicara perusahaan menyebut hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak penularan corona.

Jaringan supermarket Esselunga pun menerapkan jarak antara pembeli di toko-tokonya. Sesuai dengan peraturan pemerintah, mereka mewajibkan pembeli dan pelanggan restoran tetap terpisah setidaknya tiga kaki dari kasir.

Kepala ekonom di asosiasi perdagangan Italia Confindustria, Stefano Manzocchi, menyebut upaya-upaya pembatasan publik ini kemungkinan akan menjerumuskan sektor restoran dan pariwisata ke dalam krisis.

Sektor pariwisata Italia akan sangat terpukul, karena destinasi populer di Venesia dan Roma sepi. Vatikan saja, sudah menutup Lapangan Santo Petrus dan Basilika Santo Petrus bagi para wisatawan.

"Keterbatasan dalam pergerakan dan ketakutan tentang apa yang akan terjadi kemungkinan akan menyebabkan kontraksi dalam konsumsi, yang mungkin sudah sangat berlangsung," kata Stefano.

Dia berharap pemerintah memberikan suspensi alias keringanan yang lebih luas dalam pembayaran utang, dukungan likuiditas untuk perusahaan Italia, subsidi untuk pekerja yang menganggur sementara, dan, rencana investasi infrastruktur publik.

"Memang hal itu tidak akan berbuat banyak untuk meningkatkan permintaan, tetapi itu akan membantu untuk mempertahankan pengeluaran untuk barang-barang penting, dan memberikan masa tenggang untuk beberapa pembayaran pajak dan pinjaman," kata Stefano.

Dari pemerintah, Kementerian Perekonomian Italia telah menyatakan bahwa pembayaran hipotek akan ditangguhkan. Langkah itu sedang didiskusikan dengan bekerja sama dengan bank. Selain itu, pemerintah Italia juga akan mengalokasikan US$ 28 miliar untuk melawan krisis karena virus corona.

Para peneliti di Barclays memperkirakan negara di Eropa akan mengalami resesi yang berlangsung singkat tetapi relatif dalam pada paruh pertama tahun ini. Mereka memprediksi pertumbuhan ekonomi setahun penuh berada pada 0,3%.



Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com