Sederet Dampak Corona Terhadap Bisnis di Indonesia

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 12 Mar 2020 12:14 WIB
Mata Uang Rupiah
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Virus corona sudah menyebar ke berbagai negara. Virus ini juga menimbulkan ketidakpastian perekonomian global, tak terkecuali Indonesia.

Ketua Kebijakan Publik Apindo/ Wakil Ketua Umum PHRI Sutrisno Iwantono mengungkapkan ada potensi memburuknya perekonomian Indonesia di bulan-bulan berikutnya.

Dia menyebutkan pada Januari 2020, ekspor Indonesia tercatat US$ 13,41 miliar turun 7,16% dibandingkan periode Desember 2019 US$ 14,44 miliar. Jika dibandingkan dengan Januari 2019, ekspor juga mengalami penurunan 3,71%.

"Februari, Maret dan seterusnya pasti semakin memburuk," kata Sutrisno kepada detikcom, Kamis (12/3/2020).

Dari sisi ekspor non migas ke China tercatat US$ 2,1 miliar, Amerika Serikat (AS) US$ 1,6 miliar dan Jepang US$ 1,19 miliar. Ketiga negara tersebut berkontribusi 38,41%.

Sementara itu dari sisi impor tercatat US$ 14,27 miliar turun 1,6% atau US$ 231,6 juta. "Turunnya impor bahan baku dan bahan penolong termasuk yang berasal dari China sangat memukul industri dalam negeri. Banyak yang terancam penghentian produksi dan merumahkan karyawan," jelas dia.

Sedangkan dari sisi pariwisata, corona memang mengganggu karena tak hanya turis dari China, tetapi semua negara juga mengalami penurunan.

Bisnis hotel dan restoran memang sudah mengalami penurunan sejak beberapa tahun terakhir. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari 2020 tercatat 1,27 juta kunjungan. Pada Februari dan Maret sejak merebaknya corona diprediksi akan terus menurun dan banyak hotel yang akan merumahkan karyawannya.

Stimulus yang diberikan oleh Bank Indonesia (BI) melalui suku bunga dan juga giro wajib minimum (GWM) akan berdampak pada perekonomian nasional.

"Tentu akan berdampak, tetapi transmisi dari BI ke bank umum tidak akan otomatis masih ada time lag, karena itu bank diminta merespon lebih cepat," jelas dia.

Di samping itu, menurut Sutrisno, perlu ada kelonggaran atau relaksasi yang lain karena The Federal Reserve baru menurunkan suku bunga jadi masih ada ruang.

Kemudian dari sisi fiskal, tentu stimulus sebesar Rp 10 triliun harus fokus untuk meningkatkan daya beli dan mendorong sektor padat karya.

Selain itu kebijakan Pph yang diwacanakan Menteri Keuangan harus segera diimplementasikan. Misalnya sektor pariwisata terutama hotel, restoran yang saat ini dalam kondisi 'sesak' tidak bisa hanya dengan pergantian pajak daerah 10% di 10 destinasi.

"Perlu diketahui bahwa stimulus pembebasan pajak di 10 destinasi itu bukan diterima oleh Hotel dan restoran, tetapi diterima oleh pemerintah daerah. Nah Pemerintah Pusat harusnya membicarakan itu dengan pemerintah daerah," jelasnya.

Selanjutnya penambahan hari libur nasional pada 2020 menurut Sutrisno belum berpotensi meningkatkan konsumsi. Namun akan berdampak pada penurunan produktivitas.

"Bayangkan bila karyawan hotel disuruh libur pada masa Lebaran, mau menginap dimana orang yang pada liburan. Sementara untuk pabrik yang sudah teken kontrak dengan buyer, karyawannya libur akhirnya tidak produksi bagaimana akibatnya ya?" imbuh dia.



Simak Video "Bertambah 4.071, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 252.923"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)