Sektor Riil Tahun Depan Masih Remang-remang
Rabu, 07 Des 2005 13:35 WIB
Jakarta - Kondisi sektor riil pada tahun depan diperkirakan masih remang-remang, karena tingginya inflasi dan suku bunga pinjaman bank."Dengan lending rate 20 persen tidak ada lagi bisnis sektor riil yang diuntungkan dengan keaadan ini, sehingga tahun depan masih akan remang-remang menuju terang," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) MS Hidayat di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (7/12/2005).Pemerintah dan Bank Indonesia (BI), ungkap Hidayat, saat ini tengah memerangi tingginya inflasi dengan mengeluarkan kebijakan yang justru mengorbankan sektor riil seperti menaikkan suku bunga. Padahal daya tahan sektor riil ada batasnya dan rentan akan PHK, jika terus menerus mengalami tekanan. "Secara teori, inflasi baru bisa ditekan bulan Agustus. Menurut saya itu terlalu lama, sebaiknya awal tahun depan Boediono dan BI sudah bisa mengatasinya," kata Hidayat.Kebijakan menurunkan inflasi juga, diharapkan bisa diimbangi dengan pemberian insentif dan privilege (perlakuan khusus) kepada dunia usaha agar bisa bertahan."Makusd saya kalau membenahi makro harus dibarengi dengan kebijakan fiskal yang mendorong pertumbuhan sektor riil," katanya.Kadin juga meminta kepada Menteri Perindustrian yang baru agar membuat program yang fokus dengan memprioritaskan sektor sasaran tersebut.Sejumlah program unggulan terutama yang labour intensive juga harus digalakkan seperti industri kayu, rotan dan kelapa sawit. "Menteri yang baru tidak perlu dikasih waktu untuk belajar lagi, karena tinggal empat tahun untuk membuktikan berhasil atau tidak," tutur Hidayat.
(ir/)











































